PUTRI BINTANG 2, Episode 3: Cemburu

Berbagi suami? Aku sama halnya dengan wanita lain,–pencemburu. Aku bukan menolak sunnah Rasul, sama sekali tidak. Tapi di saat umur pernikahan kami belum genap dua tahun dan tiba-tiba ada seorang wanita datang menginginkan menjadi istri dari suamiku? Tiba-tiba egoku menyerang wanita yang lemah ini. Meskipun dulu aku pernah mengatakan bahwa aku rela dipoligami, namun ketika kenyataan itu menghampiriku, sejatinya aku belum benar-benar siap. Ya Alloh, berilah hamba ketenangan….

“Fah?” Retno menyapa ketika dilihatnya Afifah hanya terdiam. “Afwan, Fah. Saya tahu saya sangat lancang berani menemuimu seperti ini.” Lanjut Retno.
“Apa yang membuat Mba Retno memberanikan datang ke sini untuk meminta menjadi istri Mas Rizal?”
“Sekali lagi saya minta maaf, Fah. Saya datang ke sini pun karena saya telah sholat istikharoh sejak dua bulan lalu. Dan saya harap, keputusanmu pun melibatkan Alloh juga.”
“Mba sadar betul kan kalau Mas Rizal sudah memiliki istri?”
“Ya, saya sadar betul, Fah. Maaf, saya memang salah karena mencintai suami orang. Sejak pernikahan kalian tahun silam, saya sudah berusaha untuk menghilangkan kecenderungan kepada Rizal. Tetapi, ternyata susah. Saya sudah memiliki kecenderungan kepada suamimu sejak kelas 3 SMA.”
Hati Ifah disergap rasa cemburu yang teramat sangat mendengar wanita lain mencintai suaminya selama itu. Bahkan aku yang telah sah menjadi istrinya, belum genap dua tahun mencintai suamiku.
“Lalu kenapa mba baru berani jujur sekarang di saat semuanya bisa dikatakan sudah terlambat?”
“Itulah bodohnya saya, Fah. Dulu saya hanya memendam perasaan itu, dan berusaha untuk menghilangkannya. Tetapi semakin berusaha menghilangkannya, semakin susah hilang.”
“Fah….apa pun keputusanmu, rela atau tidak rela terhadap kehadiranku dalam kehidupan kalian, saya menghormati keputusanmu dan suamimu, tapi saya minta tolong untuk melibatkan Alloh dalam urusan ini. Jangkauan manusia terlalu sempit untuk membaca takdir-Nya. Jawaban dari-Nya insya Alloh selalu yang terbaik.”
Hening.
Dirasa sudah menyampaikan apa yang ingin disampaikannya, Retno berpamitan pulang. Ifah kembali duduk, termenung…..
****

Rizal memandangi istrinya yang sedang khusuk berdoa. “Sudah bangun, Mas?” Tanya Ifah.
“Kenapa nggak bangunin mas, Fah?”
“Mas kan pulang tengah malam. Ayo ambil wudu Mas, masih ada waktu sebelum subuh, Ifah tek ke belakang dulu.” Ifah melipat mukena dan hendak keluar kamar.
“Fah….mas mau bicara.”
“Mas nanti brangkat pagi-pagi, kan? Ifah masak air dulu buat mandi ya.”
“Fah….”
“Nanti ya, Mas…”
“Fah, mas mau bicara” kali ini Rizal bicara dengan nada tegas. Mendengar itu, Ifah mengurungkan niatnya untuk ke belakang. Ia kembali duduk di atas sajadahnya.
“Ada apa, Mas?”
“Coba cerita ke mas.”
Rizal mendekati Ifah, ikut duduk di atas sajadah.
“Cerita apa, Mas?”
“Cerita apa yang mengganjal di hatimu.”
“Nggak ada apa-apa yang mengganjal kok, Mas.”
Sebagai laki-laki yang telah menikahimu hampir dua tahun, aku memang belum mengenalimu sepenuhnya. Aku belum bisa membaca isi hatimu. Aku hanya bisa membaca bahwa ada yang kau sembunyikan di balik matamu. Maaf. Aku hanya bisa memintamu untuk menceritakan langsung padaku, tanpa aku berusaha keras untuk belajar membaca isi hatimu….
“Kamu bisa bohongi mas, tapi matamu nggak bisa bohongi mas, Fah…”
Iffah terdiam. Ia hanya menyandarkan kepalanya di atas pundak Rizal. Seandainya aku mau menuruti egoku, dengan mudahnya aku akan menolak mba Retno untuk masuk dalam kehidupan kita. Tetapi entah mengapa aku susah untuk melakukan itu…
“Fah….kok malah nangis?”
“Mas kan tahu, dari kecil aku sendirian, aku pingin punya seorang saudari, mas….”
“Kan udah ada mas, Fah….”
“Iya sih….tapi…mas kan bukan saudariku, tapi suami….”
“Beda ya? Hehe.”
“Aku cuma kangen sama mbah putri kok mas.” Ucap Iffah berbohong.
“Ya sudah, nanti kalau mas longgar, kita pulang ke Purwokerto.”
“Beneran?”
“Iya, insya Alloh….”
Aku ragu Fah dengan ucapanmu. Bukan hanya sekedar rasa rindu kan yang membuat beberapa hari ini matamu tampak berbeda….. Suatu saat nanti aku harap aku tahu apa yang kau sembunyikan di balik mata sendumu…..
****

“Han, joging yuk di sabuga.” Fajar yang telah siap dengan kaos dan celana trainingnya mengajak Hani yang sedang mengaduk-aduk gelas di dapur.
“Males ah.” Hani menjawab singkat.
“Kok males?”
Hani diam, ia keluar dapur dengan membawa dua buah cangkir berisi teh hangat. Kedua cangkir itu ia letakkan di atas meja lalu menyalakan TV dengan memilih stasiun TV yang sedang menyiarkan berita pagi.
“Males ya males ah, Mas. Rame gitu di sabuga sabtu-sabtu gini, lieur….”
“Kamu mau mas jogging sendirian nih? Rela kalo mas lihat cewe-cewe di sana?” Fajar masih membujuk.
“Kok pake ngancem?”
“Ya makanya kamu ikut mas, biar ntar mas jelalatannya ke kamu, bukan ke cewe-cewe yang jogging pakai baju minim-minim itu.”
“Kalau mau jelalatan ke aku, ngapain di sabuga segala, di sini juga bisa.” Hani tambah sewot, namun matanya tak mengarah ke Fajar.
“Ya kan biar kamu olahraga juga, Hani sayang…..”
“Males, enakan di rumah.”
“Ya udah sini.” Fajar menarik tangan Hani, mengajaknya berdiri. “Ikutin gerakan mas.” Fajar mulai menggerak-gerakan badan, dimulai dengan pemanasan kecil, melatih otot tangan, punggung, betis.
Kupikir engkau akan meninggalkanku dengan memilih untuk tetap jogging sendiri di sabuga. Dirimu memang solutif, mas. Hani tersenyum.
“Udah ah mas, capek.” Pemanasan yang dilanjutkan sit up ternyata sudah cukup membuat Hani berkeringat dan capek. Hani duduk di atas karpet dan meminum teh yang dibuatnya tadi.
Fajar berjongkok dan memeluk lutut Hani sambil memandangnya, “Masak gitu aja dah capek sih?”
Kau tahu, Mas? Aku selalu saja tak bisa membalas tatapan matamu yang selalunya membuat hatiku luluh seketika. Duh….rasanya Alloh sedang mengirimkan serbuk-serbuk cinta itu melalui malaikat-malaikatNya…..

Di lain tempat….
“Kang, weekend ini ke nangor teu?”
Agus membaca sms dari Nurul, istrinya. Tanpa membalasnya, ia memasukkan kembali HP ke saku celana trainingnya, dan kembali melanjutkan larinya. Tiga putaran lapangan sabuga ternyata belum membuatnya mengeluarkan banyak keringat. Agus pun menambah kecepatan larinya. Bukan hanya sekedar untuk mengeluarkan keringat, namun untuk meluapkan rasa kesalnya sebagai lelaki.
Ah, kau Nurul, aku ke jatinangor atau pun tidak sepertinya bukan masalah untukmu. Jadi biarkan aku tetap di sini.
Fiuhh…Seandainya Hani belum menikah, aku ingin menjadikannya madumu, Nurul. Gila!!! Tapi aku sangat menyesal pernah menyakiti orang sebaik dia. Aku tak bermaksud untuk membanding-bandingkan kalian, tapi faktanya adalah Hani memang lebih baik dari dirimu, Nurul. Aku pun mungkin bukan suami yang baik, jadi karena itulah aku tidak ditakdirkan bersamanya. Dan kuyakin Hani sekarang sangat bahagia hidup bersama lelaki itu…
Agus mengurangi kecepatan larinya dan akhirnya berjalan setelah berlari cepat sebanyak delapan putaran. Dan tak lama kemudian ia menyalakan starter motor tigernya, kembali ke kosan di daerah RSHS.
****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s