PUTRI BINTANG 2, Episode 2: Penerima Paket Cinta

Ketika aku mencintai seseorang, maka aku tidak akan mengucapkan ‘I love you’, tapi aku akan menengadahkan tanganku, untuk mengirimkan dua paket cinta melalui diri-Mu. Satu paket untuk-Mu, dan satu paket lagi kutitipkan pada-Mu agar Engkau yang memberikan untuknya. Maka biarkanlah Engkau memilih orang terbaik yang berhak menerima paket cintaku…. Biarlah hari-hariku terisi dengan mengirimi paket cinta tanpa lelah… dan hanya itu yang bisa kulakukan untuk melupakan masa laluku, rencana-Nya memang selalu yang terbaik……

Seseorang yang telah kita cintai bertahun-tahun pun bukan jaminan bahwa dia lah yang akan menjadi pasangan hidup kita. Termasuk apa yang terjadi pada episode kehidupan Hani. Cinta sejak SMA yang telah ia pendam bertahun-tahun. Begitu pula Agus yang telah mencintai Hani sejak SMA. Meskipun begitu, mereka ternyata tidak berjodoh.

Ketika akhir kelas tiga SMA dulu, Agus pernah menyatakan perasaannya. Namun Hani tetap teguh dalam pendiriannya bahwa ia tak akan menerima perasaan seseorang jika ia belum berminat untuk menikah dalam waktu dekat. Dan ternyata mereka berdua tetap menyimpan perasaan mereka masing-masing. Mereka sama-sama tahu bahwa mereka saling menyimpan perasaan, walaupun tak diungkapkan.

Apa yang bisa dilakukan oleh cinta? Ya, sebuah keajaiban. Cinta telah membuat keajaiban. Seseorang yang labil seperti Agus pun dapat berubah menjadi lebih baik. Dalam masa penantian itu pun mereka saling memperbaiki diri, terutama Agus—yang memang berubah menjadi labil ketika kelas tiga SMA.

Ketika akhir semester enam, Agus melamar Hani dengan menemui keluarga Hani di Jogja. Banyak yang tidak percaya bahwa cinta mereka bisa bertahan begitu lama, sekitar lima tahun sejak kelas dua SMA. Yah, begitulah Alloh pintarnya mengolah perasaan manusia. Perasaan tanpa ikatan dan janji itu tetap bertahan di hati masing-masing kedua hamba-Nya tersebut. Hani masih ingat betul apa yang diucapkan Agus kepada papanya. “Saya datang kesini untuk melamar anak bapak. Saya ingin menjadikan Hani sebagai istri saya, ibu dari anak-anak saya kelak, kakak dari adik saya, dan anak dari orang tua saya…”. Kalimat itu terucap dengan jelas dari mulut Agus, tanpa ragu. Hani yang mendengar dari balik tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga hanya tersipu malu. Keluarga Hani pun menerima Agus sebagai calon menantu mereka dan kedua pihak sepakat bahwa akad akan dilangsungkan setelah mereka lulus kuliah, sekitar satu tahun lagi.
Teman-teman ketika SMA mereka pun menilai mereka adalah pasangan serasi. Bagaimana tidak? Sama-sama pintar, baik, sholeh. Membuat banyak orang pun iri melihatnya. Mahasiswa tingkat akhir di fakultas kedokteran umum UNPAD itu, bukanlah Agus yang labil seperti dulu. Tapi rencana tetaplah rencana. Alloh lah yang membuat segala keputusan. Yah, lagi-lagi begitulah Alloh dengan pintarnya mengolah perasaan manusia, membolak-balikkan hati manusia. Sampai suatu hari Hani mendapat sms dari Agus bahwa ia mencabut lamarannya dan akan menikah dengan orang lain—putri seseorang yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.

Nurul Azzahra—nama istri Agus. Putri bungsu dari pengusaha sukses di Sumedang—Ahmad Komar—ini memang sangatlah cantik, sesuai namanya. Tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan kaya. Wajar, jika Agus lebih memilih dia. Namun, jika sudah ‘meminta’ anak gadis orang, bisakah begitu saja untuk memilih orang lain? Komitmen buat Agus mungkin hanyalah sebuah permainan yang di atas namakan untung dan rugi. Sekali lagi Alloh telah menunjukkan dengan sendirinya kelabilan Agus. Ternyata sisi-sisi labil itu masih sangat melekat pada diri Agus.

Banyak orang yang sangat menyayangkan atas keputusan Agus. Yah, meskipun Nurul seorang yang cantik, cerdas, dan kaya raya. Tetapi sebagai putri bungsu pengusaha sukses, ia terbiasa dengan keadaan serba ada yang menyebabkan ia menjadi manja. Selain itu, usianya pun belum genap sembilan belas tahun.
Apa yang telah ditetapkan oleh Allah, tidak akan bisa diubah oleh manusia. Yang terjadi, maka terjadilah. Agus menikah dengan Nurul. Pernikahan termewah yang pernah didatangi Hani selama ini. Dan Hani hanya bisa memberikan doa tulusnya. Doa untuk seseorang yang pernah berjanji untuk menikahinya……

Yah, aku salah selama lima tahun ini. Tiap hari aku berdoa supaya aku dan Agus berjodoh dunia akherat, tanpa meminta apakah itu yang terbaik atau tidak untukku. Maka hari-hariku pun setelah menyadari kekeliruan itu, terisi dengan paket cinta yang tiada putusnya untuk seseorang yang Allah sendiri masih merahasiakan namanya dariku. Yah, biarlah Ia yang memilihkan untukku, karena rencananya selalu yang terbaik……

Aku memang bukan seorang wanita sempurna, bahkan jauh dari sempurna. Namun Alloh telah mengirimu padaku, untuk membuatku tampak lebih sempurna. Bukan karena kecantikan dan harta yang membuat seorang wanita menjadi sempurna, namun cinta seorang suami yang akan menyempurnakannya……

Setahun kemudian, tepat di usia nya yang ke dua puluh tiga tahun lebih satu bulan, Hani menikah dengan Fajar, pemuda asal Solo yang hanya berbeda dua tahun dengannya. Itulah jawaban doa Hani selama satu tahun ini. Allah pasti menjawabnya dengan cara terbaik di waktu yang terbaik. Yah, biarlah Allah saja yang memilih siapa yang berhak menerima paket cintanya. Dan Fajar lah si Penerima paket cinta tersebut…

Wahai yang telah Alloh kirimkan untuk menyempurnakan kehidupanku, mari sayang kita tengadahkan tangan kita, agar Dia selalu memberi paket cinta. Bukan karena kesolehan, fisik, ataupun harta, cinta itu akan selalu ada. Tapi hanya Dia lah yang bisa memberikan cinta pada kita, hingga cinta kita abadi hingga kehidupan berikutnya……

Hani terhenti dari lamunannya dan menatap pungung suaminya yang sedang serius menatap layar laptopnya. Kata orang kalau suamiku ini workaholic, ternyata benar, Hani membatin di dalam hati. Yah, sejak tiga hari mereka tinggal bersama, sepertinya Fajar lebih sering menatap layar laptopnya daripada Hani. Hani hanya bisa memberikan pengertian kalau suaminya ini memang sedang dikejar deadline untuk wisuda Juli nanti. Sedangkan sekarang sudah April, dua bulan lagi waktu seminar S2.

Untuk itu aku membutuhkan kehadiranmu di sini. Bukan hanya sekedar untuk menjadi ibu dari anak-anak kita kelak. Tapi sebagai pengisi ruang hatiku yang selama ini kesepian. Maafkan aku, kalau aku belum bisa menjadi suami yang baik.

Fajar mematikan laptopnya di saat Hani tepat disampingnya dengan membawakan secangkir teh hangat.
“Dah selese, Mas?” Hani meletakkan cangkir teh di samping laptop. “Ini di minum dulu.”
“Gulanya dikit kan Han?” Hani mengangguk lalu Fajar meneguk teh hangatnya. “Kamu gak mau lanjut S2, Han?”
Hani diam sejenak sampai kemudian ia menjawab,”Knapa Mas? Malu cuma punya istri lantang luntung ke kampus nggak jelas?”

Sampai saat ini Hani memang masih ke kampus, entah untuk mengajar tutorial kimia dasar, melanjutkan proyek dosen pembimbingnya ketika S1 dulu, ataupun mengerjakan bahan koreksian tugas atau kuis.
“Bukan itu lah, kamu ini kok sensitif banget. Ya mas kan cuma nggak pingin jadi suami yang nghambat cita-cita istrinya. Mas ijinin kamu kalau mau sekolah lagi asalkan nggak melalaikan kewajibanmu di rumah.”
“Yakin ni Mas?” Hani minta penegasan dari Fajar.
“Iya, bener kok.”
“Nanti kalau aku S2, bakal sibuk banget ngelab, terus sibuk tak tik tuk di depan laptop sampai lupa kalau di belakangnya suaminya nungguin,” ucap Hani sambil menggerakkan jari-jarinya menirukan gaya mengetik.
“Hahahahaha, kamu nyindir mas ya?”
“Ya kalau ada yang merasa tersindir, syukur alhamdulillah, hehehehe.” Mereka pun tertawa bersama.
“Mas?” Hani tiba-tiba menyapa suaminya, mereka pun berhenti tertawa. “Mas sayang aku nggak?” Pertanyaan retoris terlontarkan begitu saja dari mulut Hani. “Kenapa mas mau ngnikahi aku?” Fajar belum menjawab pertanyaan pertama, namun Hani sudah memburunya dengan pertanyaan kedua.
“Alloh yang telah mengirimmu ke rumah ini.”
Sama, Mas. Begitu pula Alloh pun telah mengirimmu ke kehidupanku.
“Iya, tapi kan mas tiba-tiba yang ke rumahku, kenapa?”
“Semua sudah diatur oleh Alloh, Han. Semua akan tiba pada waktu yang tepat. Kamu beneran mau tahu?” Hani mengangguk. “Ketika mas tingkat empat dulu, beberapa kali mas mimpiin kamu, tapi mas nggak tahu kalau itu kamu. Dan mas juga sama sekali nggak memperdulikan mimpi itu, karena ya mas anggap itu mimpi biasa pada umumnya. Dalam mimpi itu, wanita itu kadang duduk di perpus pusat, kadang sedang berjalan di rumput lapangan SR. tapi mas sama sekali nggak memperdulikan mimpi itu. Sampai suatu ketika mas melihat kamu di TU kimia. Ternyata wanita yang ada di dalam mimpi mas itu benar-benar ada dalam kehidupan nyata.” Hani masih menyimak cerita Fajar.
“Satu tahun setelah mas lulus mas tinggal di Solo, lalu kembali lagi ke Bandung untuk kuliah lagi. Nggak tahu kenapa mas jadi penasaran sama wanita itu yang sekarang udah jadi istri mas ini, hehehe.” Hani pun tersenyum. “Mas cari info, ternyata kamu ini sepupunya Rizal. Wah, ternyata dunia ini begitu sempit. Mas kenal cukup baik dengan Rizal. Dia kan dulu pejabat BEM di UI dan kami sering bertemu untuk urusan BEM.”
“Tapi ternyata kata Rizal, kamu sudah dilamar Agus. Sejak saat itu, mas sudah menutup diri dari rasa penasaran tentang kamu. Buat apa? Pikir mas saat itu. Sampai suatu ketika tepatnya tujuh bulan lalu Rizal menelpon mas kalau kalian tidak jadi menikah. Lalu Rizal pun bercerita banyak tentangmu. Setelah sholat istikharoh berkali-kali lalu mas memberikan biodata mas ke Rizal, dan akhirnya tiga bulan lalu mas datang ke rumahmu.”
“Mas tahu kok Han, kalau kamu sebenarnya ragu buat nerima mas. Tapi begitulah Alloh menuliskan takdir hamba-Nya. Semua yang menjadi ketetapan-Nya, itulah yang terbaik.”
“Terus, kalau pertanyaan pertamaku tadi gimana, Mas?”
Fajar tertawa, “Hahaha, mas udah cerita panjang begini, kamu masih aja tanya. Masa nggak bisa nyimpulin sendiri?”
Begitulah perempuan, walaupun sudah tahu jawabannya, tapi sangat ingin tahu kepastian sesuatu yang sudah diketahuinya secara langsung.
“Dalam hidup mas, anugrah terbesar itu adalah saat bapak ibu membawa mas dari panti asuhan ke rumah mereka dan saat kamu hadir di rumah ini. Tentu saja mas sayang sama kamu. Kamu ikut doain ya, semoga mas bisa jadi imam yang baik untukmu dan anak-anak kita kelak.”
“Aamiin…., pasti mas.” Hani tersenyum lega mendengar jawaban Fajar.
****

Ratusan kilometer dari Bandung, Afifah sedang kedatangan tamu seorang wanita, kakak kelas ketika SMA dulu yang juga merupakan teman seangkatan Rizal.
“Fah, maaf Fah, aku sama sekali tidak ada niat untuk mengganggu rumah tangga kalian.”
“Apakah dulu Mas Rizal pernah berjanji mau menikahi Mba Retno?” Tanya Afifah ragu.
“Nggak Fah, sama sekali nggak. Rizal bukan orang yang seperti itu. Tapi saya tahu Rizal bisa menjadi suami yang adil terhadap istri-istrinya. Oleh karena itu aku memberanikan diri untuk menemuimu.”
Afifah sama sekali tak tahu apa yang ada dipikiran Mba Retno itu. Tiba-tiba wanita itu datang ketika ia sedang mengecap manisnya sebuah pernikahan.
“Aku tahu kamu dari SMA, Fah. Kamu bukan wanita sembarangan, kamu wanita sholehah, yang menurut saya bisa ridho berbagi suami.”
Berbagi suami? Kalau ditanya, aku hanya ingin menjadi satu-satunya istri yang dimiliki suamiku. Aku ingin marah, Mba, mengapa engkau sangat lancang begini?
“Fah….” Retno memanggil Afifah pelan.
Afifah hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa…..
****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s