Perjalanan 10 tahun cita-citaku, apa cita-citamu?

Cita-cita pasti selalu berkembang, tidak mungkin berhenti–begitu yang seharusnya.
Catatan itu kutulis 10 tahun lalu di atas selembar kertas buram (karena sebenarnya diminta oleh guruku untuk menuliskannya ketika keputrian pekanan SMP dulu) dan beliau simpan. Ketika akhir kelas 3 SMP (kalau tidak salah waktu tahun itu), beliau mengembalikan kertas itu padaku. Takjub, ternyata kertas itu masih beliau simpan. Dan kini, aku pun masih menyimpannya……



Walaupun saat ini keadaanku tidaklah sesuai dengan apa yang kutuliskan 10 tahun lalu itu, namun aku yakin aku masih memiliki mimpi-mimpi. Ketika SD dulu aku ingin menjadi dokter, memiliki berhektar-hektar perkebunan, memiliki penerbitan majalah islami dll. Simpel alasannya, karena dari kecil ibuku menanamkan padaku untuk menjadi dokter. Ingin memiliki perkebunan berhektar-hektar karena film Sherina (hehehe, beneran film itu pas kita SD tho?). Kayaknya enak deh punya perkebunan yang amat luas. Dan sejak saat itu aku ingin mengunjungi kota yang memiliki perkebunan–alhamdulillah pada akhirnya aku terdampar di Bandung🙂.

Ketika memasuki SMP, pelajaran IPA dibagi menjadi fisika dan biologi. Aku baru merasakan ‘kemuneghan’ biologi dengan begitu banyak hapalannya. Dan entah mengapa aku jadi menyukai fisika, yah aku jatuh cinta pada fisika, dan cintaku ini tanpa syarat. Ketika SMP pula aku mulai mengetahui ada seorang yang bernama ‘Yohanes Surya’, sejak saat itu aku ingin ‘berguru’ padanya (walaupun sampai saat ini belum kesampaian). Yah, sejak aku mencintai fisika (dan matematika), aku ingin menjadi engineer. Dan aku lupa mengapa aku memilih ‘nuklir’ sebagai bidang yang ingin kutekuni. Mungkin hanya karena perasaan ABG labil yang cuma ngrasa keren aja gitu loh kalau ahli nuklir, coz kan emang sedikit sekali orang di negri ini yang mengerti soal nuklir😀 *dasar ababil😀. Tapi karena guruku bilang kalau masuk ke teknik nuklir maka semester 3 harus nikah, aku jadi berpikir-pikir *nikah?*. Tapi kesetiaanku pada fisika masih terus berlanjut hingga SMA kelas 1, yah, aku masih suka dengan segenap hatiku *lebay😀. Dan aku memiliki keinginan untuk mengalahkan seseorang kakak kelas yang duluan masuk ITB dalam soal fisika *yang pada akhirnya kuakui dari lubuk hatiku paling dalam, sampai kapanpun aku tak bisa mengalahkannya. Yah, otakku ini sangat minimalis, tak bisa menjangkau soal2 fisika yang ternyata baru kusadari super susah *cinta telah membutakan mataku dari kerumitan soal-soal fisika selama ini rupanya😀.

Ketika kelas 2 SMA, aku berujar pada diriku sendiri ‘aku mau belajar sekeras apa pun, aku gak bakal bisa masuk sampai nasional kalau masih mau bertahan di fisika’. Dan akhirnya aku beralih ke kimia. Jujur, aku sebenarnya sangat tidak suka kimia. Tapi aku yakin, kalau aku bisa mencintainya, maka tahun itu aku bisa lolos nasional. Yah, cita-citaku amat sederhana dibandingkan teman-teman yang lain. Aku tak berharap perunggu, perak atau bahkan emas. Aku hanya berharap bisa mencintai kimia (yang pada saat itu nilai kimiaku hanya 7 di rapot) dan bisa mengikuti Olimpiade Sains Nasional–hanya itu.
Kelas 3 SMA, setelah tercuci otak selama 2 bulan dengan kimia di tempat ‘perasingan’, aku menjadi kehilangan arah, hehe. Mau jadi apa aku?–ah, yang penting jadi orang baik aja–:D. Dalam hatiku masih terdapat keinginan masuk teknik, sedangkan ortu tetep kekeuh ingin aku masuk kedokteran. Yang kusyukuri sampai sekarang aku 2x gagal masuk kedokteran (ug* dan undi*)😀.
Teringat ucapan seorang dosen undi* ketika waktu SMA dulu, ‘kalian minimal harus ke ITB’, membuatku jadi mulai agak berpikir untuk masuk ITB di akhir kelas 3. Singkat cerita, akhirnya kuputuskan ingin masuk ke ITB, dan di kampus inilah akhirnya cintaku tertambat….pada bunga-bunga yang menghiasi dinginnya kampus🙂

Melihat catatan di kertas buram itu, mengevaluasi 10 tahun yang telah terjadi. Ternyata 10 tahun itu sangat cepat yah….:)
Semakin dikejar, mimpi itu serasa semakin menjauh, karena mimpi selalu berkembang….Dan untuk mimpi-mimpiku saat ini, cukuplah aku dan yang menciptakanku saja yang mengetahuinya. Yuks, kita tulis mimpi-mimpi kita, dan mari kita lihat 10 tahun mendatang🙂

–Dari ahli nuklir pindah ke farmasis–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s