Kebiasaan Kecil

Entah ini suatu kebaikan, atau kejelekan. Rasa-rasanya, dah kusadari sejak dahulu tentang kebiasaanku ini, dan sudah lama pula ingin kubuang jauh—setidaknya untuk hal2 tertentu. Aku masih suka menyimpan serpihan demi serpihan lembar demi lembar potongan demi potongan dari masa lalu. Dan ini lumayan berdampak pada salah satu karakterku. Karakter memang akan terbangun dari kebiasaan2 kecil. Dan ini baru kusadari. Akhirnya, berharap karakterku yang itu sedikit demi sedikit akan terkikis, aku harus berani membuang barang2 yang sudah tak terpakai—atau setidaknya menyimpannya saja di rumah ortuku–, barang2 yang sebenarnya hanya memenuhi kamarku. Kertas-kertas yang kutulis ketika SMP pun bahkan masih tersimpan. Daftar-daftar barang di masa lalu yang masih kusimpan hingga kini—-di bandung:

a. Beberapa buku diari yang kutulis ketika SMP. Walopun ini barang yang terlalu pribadi, tapi sebenarnya bukanlah suatu masalah kalau ini dibuang atau kutinggalkan di rumah. Ah, tapi diari2 itu akan menghiburku ketika membacanya, lucu bikin senyam senyum sendiri….

b. Kaset2. Dulu ketika SMP aku lagi suka2nya sama nasyid. Tip di rumah pun kubawa ke bandung. Walaupun kaset2 dan tip itu tak pernah kupake lagi di sini…., yah tapi kaset2 itu masih kusimpan rapih di suatu wadah yang kuletakkan di atas lemari.

c. Catatan masa depan yang kutulis ketika SMP dulu. Hmmm….disitu tertulis kalau aku ingin masuk teknik nuklir sebenarnya, bukan farmasi😀. dan banyak tertulis keinginan2 lainnya…. cita-cita memang pasti akan selalu berkembang. SD ingin jadi dokter, SMP ingin jadi ahli nuklir/fisika (akibat suka sama fisika n matematika). SMA jadi nggak jelas, yang penting pingin jadi orang baik…..:D

d. Novel ‘Lembar Senja Rani’, novel pertama yang kubuat ketika SMP (yah, ternyata aku baru ingat kalau novel pertama yang kubuat bukanlah Putri Bintang 1). Novel yang ceritanya pun aku sudah lupa, dan sekarang aku malas untuk membacanya lagi, karena ada prioritas lain, kupikir. Masih kusimpan, karena aku nggak punya softcopynya, hanya hardcopy, di atas kertas buram pula.

e. Album perangko yang berisi ratusan perangko bekas yang kukumpulkan sejak SMP. Walaupun sekarang tak pernah bertambah lagi….

f. Surat seorang akhwat—surat ini ia tulis untuk kami—para ASG—ketika ia tidak bisa datang mabit di SMA

g. Buku pelangi keputrian. Entah mengapa buku itu sekarang ada padaku, padahal sudah ada dalam bentuk softcopynya. Dan alhasil—entah siapa yang waktu itu memberikannya terkahir padaku—buku itu ada padaku hingga kini.

h. Foto (ternyata aku lebih menyukai diriku yang dulu…:D)

i. Surat2 kecil dari sahabatku ketika SMP dan SMA, yang sebagian masih kusimpan dalam dompetku.

j. Berbagai note. Rupanya dulu aku sangat terjadwal, jadi apapun yang ingin kulakukan, ataupun apa yang terlintas di kepalaku, akan kutulis dalam note. Namun kebiasaan itu sekarang tak pernah kulakukan lagi—kecuali untuk dalam hal tertentu saja.

k. Buku2 olimpiadeku. Entah mengapa aku masih menyimpannya—di kamarku—yang bahkan tanpanya, tumpukan bahan kuliah saja pun sudah menggunung. Tapi tetap saja bahan2 olimpiade dulu—dari buku, fotokopian, buku catatan—masih tersimpan rapih di kamarku. Oleh karena itu aku agak sedikit memaksa adikku nomor 3 untuk ikut olimpiade, dengan alasan ‘biar buku mbak kepake’ -__-“

l. Berbagai buku bacaan, dari yang penting sampai nggak penting. Makanya, hati2lah kalau meminjam buku ku, karena aku pasti akan suka mengeceknya, ‘buku ku masih di kamu tho? Nggak ilang tho?’, itu bukan karena aku tak percaya, hanya karena aku terlalu sayang dengan buku ku itu.

m. Tumpukan baju. Entah mengapa, baju yang udah bertahun2 lamanya pun aku merasa sayang untuk memberikannya ke orang lain, walopun kutahu terkadang baju2 itu hanya memenuhi lemariku saja.

n. Bahan kuliah dari tingkat 1. Yah, seharusnya ada yang kubuang atau kukasihin ke orang saja. Tapi selalu saja aku merasa ‘sayang’. Adik tingkat yang meminjam bahan kuliah pun pasti akan selalu kuminta untuk mengembalikannya di akhir semester.

o. Jangan salah, bahkan sampai tulisan ‘bismillah’ (tulisan temen SMA kalo gak salah, bekas mading ulba apa ya kalo gak salah—bagus) yang tertulis dengan tulisan arab kusimpan selama bertahun2 untuk menghiasi ‘mading’ kamarku. Tapi sayang, ketika pindah kosan, tulisan itu raib entah kemana.

p. Dan masih ada barang2 lainnya, yang seharusnya bisa kutinggalkan saja di rumah ortu, tidak harus kubawa ke bandung sehingga menyusahkanku dengan banyak kardus ketika pindahan ke kos.

Dan sekarang, satu tas plastik besar berisi kertas2 dan barang tidak terpakai lainnya akan kubuang, dan tetap saja barang2 itu bukanlah barang2 yang sudah kusebutkan di atas…..

Yah, aku harus berani, merombak semua yang sudah tersusun, tersistematis, dan melekat sangat……

Hei kalian, yang memiliki kebiasaan yang sama denganku, setidaknya sedikit hal aku tahu bagaimana sifat kalian—apabila kalian perempuan. So, mencobalah, untuk tidak menyimpan barang2 sampai bertahun2 gitu…hehehehe….

Sehingga, tak lagi kubutuhkan waktu yang lebih banyak untuk menerima semuanya, tak ada lagi kalimat ‘aku hanya membutuhkan waktu yang sedikit lebih banyak.…;)

*Tertulis pada suatu malam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s