PUTRI BINTANG 2, Episode 1: Ketika Cinta itu Datang

Sepasang pemuda dan pemudi itu berjalan menuju gedung yang sering mereka datangi. Tiba-tiba kaki sang perempuan ingin berhenti melangkahkan langkah-langkah kecil yang sedari tadi membawanya. Nafasnya ikut terhenti sejenak, susah payah ia menghirup mencoba mengumpulkan oksigen di sekitarnya. Dan tiba-tiba hatinya merasa ‘nyes…’ seperti disiram es ketika sesampainya di dekat tangga dan pria yang sedari tadi berjalan bersamanya mengucapkan, “Tunggu ya, Sayang. Mas nggak lama.”
Di dekat tangga, sang pria naik tangga meninggalkan kekasihnya yang memilih untuk menunggunya di dekat tangga. Dunia seolah berhenti berputar, gedung-gedung di sekitarnya ikut berhenti dari aktifitasnya hanya untuk melihat apa yang terjadi padanya. Dalam hitungan detik wanita itu kembali tersadarkan. Cepat-cepat ia ke kamar mandi di prodi kimia, melihat wajahnya di depan cermin.
Adakah yang salah denganku? Jantungnya masih berdetak cepat. Mungkin, jika dokter memeriksanya dengan stetoskopnya, sang dokter akan menyimpulkan wanita itu punya kelainan pada jantung. Ia tunggu beberapa menit sampai jantungnya kembali berdetak dengan normal. Masih ditatapnya cermin, “Dulu ku tak begini, lalu adakah yang salah denganku sekarang?”
Ia merapikan bajunya dan berulang kali memastikan wajahnya kembali normal di hadapan cermin. Setelah semuanya dipastikan dalam keadaan ok, ia keluar kamar mandi. Langkahnya telah normal, dan pastinya jantungnya sudah dipastikan berdetak dengan normal kembali.
Wanita itu adalah Hani. Hani yang hitungan belasan tahun lalu adalah seorang gadis kecil yang kesepian, penuh rasa kehilangan. Dan dalam hitungan bulan lalu, hatinya tercabik-cabik akan sebuah janji. Dan kini ia adalah seorang wanita dewasa…..
Hani duduk di anak tangga paling bawah, menunggu seseorang. Sambil menunggu lelaki yang tadi berjalan bersamanya, hani membaca Al-Quran—mengulang hafalannya.
Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menyapanya,”Yuk, pulang!”
Hani menghentikan bacaannya, “Udah selesai urusannya?” Hani bertanya sambil tersenyum, berusaha senormal mungkin.
“Iya, udah.” Lelaki itu menggandeng tangan Hani untuk pulang.
Kembali seketika hati Hani seperti tersiram air es. Hani tak bisa membayangkan wajahnya sendiri saat ini seperti apa. Mereka pun saling diam, Hani tak tahu harus memulai pembicaraan apa. Lelaki itu pun sepertinya tetap nyaman dalam diamnya.
Hani berusaha bersikap senormal mungkin. Ia tak mau tiba-tiba kakinya diam membeku di tempat, nyaris seperti tadi ketika mereka berjalan ke kampus. Baru tiga hari lalu mereka menikah, dan sayangnya mereka bukan pasangan yang bisa menikmati hari-hari bulan madu. Mereka harus segera kembali ke Bandung karena lelaki yang berada di sampingnya ini harus bertemu dengan pembimbing tesisnya.
Empat tahun lebih Hani sekampus dengannya, tetapi sekalipun lelaki itu tak pernah membuatnya ‘galau’. Bahkan ketika lelaki itu datang ke rumah Hani di Jogja dan memintanya untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya kelak, Hani pun hanya diam. Diam bukan karena berarti setuju. Tapi sungguh, Hani tak tahu alasan apa yang akan diutarakan untuk menjawab persetujuan atau penolakan darinya. Papa yang akhirnya menjawab. “Dia lelaki yang baik,” hanya itu alasan papa. Dan Hani hanya menurut kata papa, karena ia tak memiliki jawaban……
“Huft…….” Kudengar lelaki di samping Hani ini menghela nafas panjang. Hani pun menghentikan lamunan dalam diamnya. Hani perhatikan wajahnya, ada seberkas rasa lelah yang tertinggal di wajahnya.
“Semalam di kereta nggak tidur ya Mas?” Tanya Hani.
“Gimana aku bisa tidur kalau di sampingku ada bidadari cantik tertidur pulas yang harus kujaga?” Dia berbalik bertanya pada Hani sambil merangkul pundak kanan Hani dengan tangan kanannya. Hani pun tersipu mendengar jawabannya. Untuk beberapa detik mereka menghentikan langkah dan saling pandang. Mereka pun tersadar ketika ada seseorang yang memanggil lelaki di samping Hani dari arah belakang.
“Kang Fajar!!!”
Lelaki yang bernama Fajar itu membalikkan badan, dan dilepaskan tangannya dari pundak Hani. “Barakallah ya Kang, afwan saya nggak bisa hadir di walimahan akang.”
“Iya, nggak apa-apa, Gas. Yang penting doanya….” Ucap Fajar sambil tersenyum.
“Kok udah di Bandung aja, Kang? Nggak bulan madu?”
Fajar tersenyum lagi, “Pembimbing tesis lusa mau keluar negri sebulan, Gas. Jadi yah, hari ini membereskan beberapa keperluan dengan beliau sebelum beliau pergi.”
“Ow….ok deh, Kang. Moga dilancarkan ya…. Saya duluan Kang, mau ada kuliah lagi.” Ucap Bagas sambil menjabat tangan Fajar erat.
“Siapa, Mas?”
“Bagas, anak elektro, juga mantan staffku di Kabinet dulu, makanya kami cukup akrab. Habis ini mau kemana, Han?”
“Pulang lah, Mas.” Fajar sambil menyalakan motornya ketika telah berada di parkiran belakang kampus.
“Udah siang, nggak sekalian makan siang dulu?”
“Ya makan di rumah aja, atau Mas Fajar dah laper banget?”
“Ya nggak juga sih.”
“Ya udah, ke pasar simpang dulu aja yuk, beli sayur.”
“Yakin kamu nggak capek?”
“Yakin Mas nggak mau makan masakanku?” ditanya pertanyaan retoris seperti itu Fajar hanya tersenyum dan tetap melajukan motornya—Pasar Simpang yang menjadi tujuan mereka kini.
****
Di meja makan, Hani hanya memandangi Fajar yang sedang melahap masakannya. Sayur bayam dan lele goreng yang dimasaknya tadi sudah terhidang di meja menemani makan siang mereka berdua.
“Enak kok, kamu nggak usah nglihatin khawatir gitu. Ayo makan juga.” Fajar menegur Hani yang dilihatnya hanya melihatnya saja, tanpa menyentuh makanan yang telah dimasaknya.
Hani hanya tersenyum lalu mengambil nasi beserta lauknya. “Kamu nggak usah khawatir, perut mas ini bisa nampung apa aja, kecuali satu makanan.”
“Apa, Mas?” Tanya Hani sambil menyuapkan suapan pertamanya.
“Lah, masa kamu nggak tahu? Kan mas tulis di proposal nikah Mas.” Mendengar jawaban ini Hani menjadi salah tingkah. Ia bukan lupa atau pura-pura lupa, tapi dia memang tidak membaca biodata Fajar. Ketika Rizal memberikan biodata Fajar ke papa, Hani sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membacanya. Dan ketika papa memutuskan untuk menerima lamaran Fajar, Hani pun hanya menuruti tanpa membaca biodata, yang ia tahu ikhwan itu adalah kakak tingkatnya di kampus—bernama Fajar—dan baik orangnya.
“Mmas mau nambah lagi?” Tanya Hani, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Mau sayurnya aja lagi, udah kenyang.” Hani pun menambahkan sayur ke dalam piring Fajar.
“Kok kita tinggal di rumah yang sebesar ini, Mas? Sepi….kalau cuma ditempati dua orang aja. Kenapa nggak ngontrak di rumah yang lebih kecil lagi?” Rumah yang mereka tempati sekarang memang tidak terlalu besar sebenarnya, tapi jika hanya ditempati dua orang, rumah itu terasa sangat sepi.
“Siapa yang ngontrak? Ini rumah kita kok.”
“Maksudnya, ini rumah mas?”
“Bukan rumahku, Hani. Tapi rumah kita.”
“Siapa yang ngasih, Mas?” Hani penasaran, karena untuk ukuran seorang Fajar yang yatim piatu dan belum memiliki pekerjaan karena melanjutkan S2, agak mengherankan jika diusianya yang sangat muda ini telah memiliki rumah yang nilainya ratusan juta.
Fajar memang telah yatim piatu. Ah, sebenarnya tidak bisa dipastikan juga apakah ia masih memiliki orang tua kandung atau tidak. Yang ia tahu, orang tua yang selama ini dianggapnya orang tua kandung telah tiada. Sepasang suami istri di kota Solo mengangkat Fajar sebagai anak mereka dari panti asuhan karena sampai sepuluh tahun pernikahan mereka, Allah masih belum memberikan mereka keturunan. Orang tua angkat Fajar selama ini menganggap Fajar seperti anak kandungnya sendiri. Namun, orang tua angkatnya telah meninggal dunia ketika Fajar tingkat dua. Ketika pernikahan mereka pun, Fajar hanya membawa teman-temannya ke Jogja, keluarga dari orang tua angkatnya tidak ada yang datang, dan Fajar pun tidak memberikan alasan—cukuplah hanya ia dan Allah yang tahu mengapa.
“Alloh yang ngasih.” Jawab Fajar sambil tersenyum. Hani ingin bertanya lagi, tapi dilihatnya sepertinya Fajar tidak suka membahas tentang ini. “Ah ya, suatu saat kamu pasti tahu, tapi bukan sekarang ya, Han. Mas janji akan kasih tahu kamu, nanti ketika kita di Solo. Setiap satu bulan sekali mas ke Solo selama tiga hari, dan mas harap kamu mau menemani mas ke Solo. Di sana kamu akan tahu darimana mas bisa dapatkan rumah ini.”
“Ah, ya, beberapa tahun lagi juga rumah kita ini nggak akan sepi lagi, kan bakal ada Fajar dan Hani junior.” Hani hanya tersipu malu. “Mas mau punya banyak anak, karena mas nggak ingin hidup kesepian lagi. Kalian nanti yang bakal mengisi kehidupan seorang Fajar…” Hani terhipnotis dengan senyuman Fajar. Di rumah ini lah mereka akan membangun cinta mereka, membangun surga dunia mereka.
Fajar ke kamar dan Hani ke dapur untuk membereskan bekas makan mereka. Ini hari pertama Hani menempati rumah ini. Sebelumnya Hani tidak tahu akan dibawa kemana oleh suaminya. Barang-barangnya di kosan lama juga sudah dipindahkan ke rumah ini oleh teman-teman kosan lama Hani beberapa hari lalu. Tumpukan kardus berisi banyak barang masih berada di tempatnya. Ia belum ada tenaga untuk membereskan barang-barangnya.
Di lihatnya satu persatu ruangan di rumah mereka. Rumah dengan empat kamar ini menunjukkan pemiliknya menginginkan suatu saat rumahnya ini akan berpenghuni banyak orang. Sederhana, tapi elegan—itu komentar Hani mengenai rumah barunya ini. Sepertinya ini cukup menggambarkan bagaimana karakter suaminya ini.
Setelah mencuci piring, Hani menuju kamar. Dilihatnya Fajar telah tertidur sangat pulas. Tidak tidur di kereta semalaman tentu saja sangat melelahkan, walaupun selama di kereta hanya duduk. Hani melepaskan kaca mata Fajar, dan ia hanya duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi wajah manis suaminya.
Beberapa hari lalu aku masih tak memiliki alasan mengapa aku harus menerimamu dan mengapa engkau memilihku, di saat di luar sana banyak akhwat yang mengantrimu. Memang bukan aku yang memilihmu untukku, tapi Allah langsung lah yang memilihmu untukku. Dan kini aku tak hanya punya satu atau dua alasan saja mengapa aku harus tetap di sini menemanimu, tetapi aku memiliki seribu alasan mengapa aku harus mencintaimu. Ya, aku tahu mengapa aku mencintaimu dan semoga Allah selalu menyempurnakan cinta kita…..

bersambung……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s