Puasa si Sulung

“Umi………” Ia berlari ke arahku dan memeluk dengan melingkarkan tangannya di perutku. Wajahnya ia tenggelamkan dalam perutku. Dan aku berusaha menenangkannya dengan membelai kepalanya.

“Kenapa Mas?” Aku bertanya dan si sulungku ini tetap menangis.

“Buku baru yang kemarin dibeliin umi digunting-gunting sama Dek Hani.”

Kulihat putriku yang baru berumur empat tahun dengan wajah penuh penyesalan keluar kamar menuju ke arah kami.

“Maaf, Mas…..,” hanya itu yang diucapkannya ketika melihat kakaknya menangis. “Hani nggak tahu kalau itu buku baru Mas Zaki….”

“Lain kali Hani tanya dulu ya kalau mau gunting-gunting buku lagi,” ucapku pada Hani. Aku tak sanggup untuk memarahi putriku yang seperti boneka ini. “Udah, jangan nangis lagi Mas, Dek Hani nya kan udah minta maaf….” Ucapku berusaha menghentikan tangis Zaki. Namun, Zaki semakin banyak mengeluarkan air matanya dan memelukku.

“Umi…..aku takut….” Aku mengernyitkan dahiku. Apakah bukan hanya sekedar buku barunya—hadiah puasa ramadhannya dariku—yang membuatnya menangis?

“Takut kenapa, Mas?”

“Buku hadiah puasa dari umi udah rusak. Terus, pahala dari Alloh apa juga rusak, Mi?” Ia menangis semakin menjadi-jadi. Hatiku luruh seketika mendengar pertanyaan polos dari sulungku yang baru berumur tujuh tahun ini.

“Alloh sayang Mas Zaki.” Hanya kalimat itu yang bisa kuucapkan sambil menangis memeluknya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s