catatan seorang hamba (2)

Seseorang entah berapa umurnya, yang jelas kedewasaannya melebihi umurnya, selalu bermimpi dan berharap. Buka harapan atau mimpi bertemu dengan idolanya seperti kebanyakan mimpi remaja pada umumnya. Namun, mimpi yang sebenarnya ingin ia beritahukan hanya saja tak sanggup ia katakan dan matanya yang mulai berembun yang akan menjawabnya. Sungguh, bukan maksud hatinya tuk menangis, ia hanya ingin mencairkan kebekuan hatinya yang tak dapat berucap. Doa, harapan, mimpi adalah semangat hidupnya. Hidup yang tak lama baginya ini—dan tentunya bagi semua manusia pemilik nama. doa yang tak putus-putusnya ia panjatkan yang merupakan puncak dari cintanya. Cinta yang baginya adalah penerang kedamaian bagi kalbu yang kesepian akan embun. Harapan baginya adalah seuntai kata manis bagi orang yang akan tenggelam di dalam tanah. Mimpi baginya adalah jalan dari munculnya sebuah harapan.
Akan selalu ada denyut nadi untuk berusaha lebih baik walau di akhir segala pengharapan dan keterasingan. Kini ia mencoba hidup layaknya yang wajib dilakukan manusia. Tersenyum, menolong orang lain walaupun terkadang ia sendiri dalam kesusahan. Semua dilakukannya untuk mencairkan hatinya.
Di waktu kosongnya, terlihat ia duduk sendiri sedang tangan kirinya menggenggam arang yang panas dan tangan kanannya menggenggam es batu yang lama-lama tentunya akan mencair. Ketika kutanyakan ia hanya menjawab:
“Terlalu dinginkah aku sehingga sulit bagiku untuk memaknai hidup ini? Apakah hidup itu?”
Yah, apakah hidup itu? Apakah ketika jantung masih berdetak saja atau….? Apakah hidup itu makan, minum, sekolah, jalan-jalan, tidur? Katanya, hidup itu perjuangan. Namun, berjuang dan perjuangan yang bagaimana?
Ia melanjutkan ucapannya lagi, “Tangan kananku yang kedinginan ini mengingatkanku bahwa hatiku yang dingin ini pasti suatu saat pun bisa mencair. Sedangkan tangan kiriku yang kepanasan dan terluka ini kuharap akan menjadi saksi di hadapan tuhanku bahwa sungguh aku ingin membakar dan menebus dosa-dosaku. Hidupku bukan milikku.”
Kulihat ia, tak dingin dan berimajinasi ke luar dunianya lagi. Kalaupun ia menyendiri termenung, hatinya berbicara dan hanya Tuhannya yang tahu.
Tahukah kau apakah mimpinya itu? Ia ingin, hidupnya berarti bagi orang lain dan kematiannya adalah duka bagi orang lain pula. Tahukah kau siapa ia? Ia bernama dengan nama yang tlah Tuhan berikan untuknya………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s