BIDADARI SURGA ITU BERNAMA ISTRIKU

3 Juni 2002
Umurku genap sudah dua puluh lima tahun. Aku menghubungi murobbiku kembali untuk menanyakan bagaimana nasib proposalku yang kuajuin ke beliau seminggu yang lalu. Syarat yang kuminta tidaklah banyak. Cukup hanyalah sholehah dan kalau bisa masih satu almamater denganku. Aku tersenyum. Apakah ini berarti aku masih mengharapkan ‘dia’? Cinta saat aku masih menjadi mahasiswa di institut terbaik di negeri ini?
Ah, tapi aku ingin benar-benar menyerahkan sepenuhnya kepada sang murabbi. Entah siapa yang akan beliau tawarkan, semoga aku bisa benar-benar mencintainya dan merajut rumah tangga untuk menggapai ridho-Nya.

7 Juni 2002
“Bagaimana Akh?” murabbiku bertanya kepadaku.
Aku berpikir panjang, terdiam dari tadi membaca biodata yang ada di tanganku. Nama yang tercantum di biodata itu tidaklah asing bagiku lagi. Tapi aku berpikir cukup lama untuk mengambil keputusan. Bukan apa yang tertulis di dalam biodata itu. Tapi membaca namanya saja aku jadi teringat beberapa waktu silam ketika aku masih menjadi mahasiswa tingkat tiga di kampus yang sama dengannya. Aku yang sudah terbiasa melakukan semuanya dengan sempurna, tiba-tiba ditegur dengan teguran keras oleh akhwat tingkat satu karena keputusanku yang dianggapnya kurang tepat. Dan akhwat itu adalah orang yang sama dengan pemilik biodata yang sedang kupegang kini. Safira Putri. Sanggupkah aku menikah dengan akhwat yang dulu kujuluki akhwat tergalak di kampus?

28 Juli 2002
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku. Akhirnya, separuh jiwaku telah datang. Setelah aku istikharoh beberapa kali, akhirnya aku semakin mantap untuk melamarnya. Dan hari ini adalah hari dimana janji sakral itu terucapkan. Hak dan kewajiban sebagai seorang suami dan istri telah berlaku mulai sekarang. Ya Allah, aku menikah di jalan-Mu. Bantulah kami agar bisa membangun rumah tangga yang bisa menguatkan Islam di negeri ini.

3 Oktober 2002
Satu bulan pernikahanku. Ternyata banyak sekali kejutan dalam hidupku kini. Istriku yang dulu kuanggap akhwat paling galak di kampusku, ternyata ia adalah makhluk yang sangat unik. Aku sama sekali tak menyangka kalau ia ternyata juga bisa luar biasa lembutnya. Ia bisa menjadi makhluk dengan kesabaran dan kedewasaannya melebihiku, tetapi bisa juga menjadi kekanakkan dan manja.

1 Desember 2003
Aku dan Safira adalah sepasang suami istri yang ingin segera memiliki momongan setelah pernikahan kami. Kami menjalankan hidup dengan normal-normal saja, tidak menggunakan KB ataupun ‘KB kalender’, karena kami memang ingin segera memiliki momongan. Namun mengapa sampai sekarang belum nampak tanda-tanda hamil pada diri istriku? Apakah kami seperti apa yang dikatakan Safira?
“Sabar Kang, mungkin Allah belum mempercayakan kita untuk memegang amanah sebesar itu,” kata Safira beberapa hari yang lalu.
Ah, mungkin saja Allah memang belum mempercayakan kami berdua. Atau mungkin diantara aku dan Safira kurang subur? Safira kah? Dari sebulan lalu setiap aku mengajaknya ke dokter ia selalu menolaknya.

17 Desember 2003
Kekurangan itu ada padaku! Astaghfirullah…..sempat aku mencurigai istriku sendiri. Tapi ternyata yang kurang subur adalah diriku sendiri. Hari ini akhirnya Safira bersedia ke dokter. Namun, pernyataan dari dokter itu membuatku sangat terkejut. Aku tak menyangka jika diriku yang kurang subur.
“Sabar ya, Kang. Kurang subur itu bukan berarti sama sekali gak bisa punya anak.”
“Maafkan akang ya, Dik.”
“Safira bersedia dinikahi Kang Rizal bukan hanya karena ingin memiliki keturunan, Kang. Dari awal memutuskan untuk menikah, Safira sudah meniatkannya untuk ibadah. Sekarang kita hanya bisa memohon kepada Allah agar bisa dipercayai untuk memegang amanah itu, Kang.”
Kata-kata Safira adalah penyejuk hatiku. Allah lah tempat kami memohon dan meminta. Ya Allah, percayakan kepada kami untuk menerima amanahmu…..

20 Januari 2004
Tak ada perubahan yang terjadi pada Safira. Kupikir, setelah ia mengetahui bahwa aku kurang subur, cintanya akan berkurang. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Ia makin mencintaiku. Dan aku pun makin mencintainya. Hari-hari yang kulalui menginjak dua tahun pernikahan kami, tak bedanya dengan hari-hari bulan madu kami. Di antara kesibukannya menyusun thesis untuk target wisuda S2 nya juli nanti, ia tetap ada untukku. Ah, ya Allah, beruntung sekali aku mendapatkan bidadari seperti Safira. Ia adalah seorang istri, yang selalu siap sedia ketika aku ‘membutuhkannya’. Ia adalah seorang ibu, yang menyiapkan segala kebutuhanku, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia adalah seorang adik, yang sering menghiburku dengan celotehan-celotehan lucunya. Dan ia adalah seorang kekasih hatiku, yang aku tak bisa hidup jika separuh jiwaku itu menghilang.

4 Januari 2005
Ya Allah, begitu banyak nikmat yang Kau berikan padaku. Aku menangis haru saat Safira dinyatakan positif hamil. Aku sangat bahagia! Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah dari ‘Safira kecil’ atau ‘Rizal kecil’. Ya Allah, Engkau tak menyalahi janji-Mu. Hanya kepada-Mu lah kami memohon dan meminta….

2 Februari 2005
Walaupun aku tak bisa berada di samping Safira selama dua puluh empat jam penuh, aku berusaha menjaga istri dan anakku. Aku sangat mengharapkan kehadiran seorang anak. Aku tak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada istri dan calon anakku. Safira kusuruh tinggal di rumah saja selama hamil ini dan tak perlu juga melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Aku telah mendapatkan seorang pembantu untuk mengurus rumah ini, Bi Yati namanya.
“Kang, Safira bisa tambah gemuk kalau gak ngapa-ngapain kaya gini.” Safira protes ketika ia sama sekali tak boleh menyentuh pekerjaan rumah olehku.
“Gak apa-apa gemuk juga. Akang tetep cinta sama kamu, Dik. Tugas kamu sekarang lebih berat daripada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah itu. Jaga anak kita ya, Dik.”
Yah, Safira kadang gak tahan ingin melakukan sesuatu, apalagi ia tak begitu berselera dengan masakan Bi Yati yang menurutnya asin. Akhirnya kuijinkan dia untuk memasak. Selain itu, kubelikan dia banyak buku biar waktunya bisa produktif meskipun tak melakukan pekerjaan rumah.
Soal nyidam, Safira memang agak aneh. Pernah suatu hari ia tak mau makan nasi di rumah. Ia hanya ingin nasi milik tetangga sebelah. Dengan menahan malu, akhirnya aku minta nasi tetangga sebelah. Aneh-aneh saja orang nyidam itu. Padahal ketika kucicipi nasinya, rasanya sama saja dengan nasi di rumahku.
Pernah juga Safira meminta es blewah.
“Kang, beliin es blewah di pasar baru.” Safira menelponku hari itu.
“Nanti sore ya, Sayang.”
“Gak bisa, maunya sekarang. Lagian kalau sore bisa udah abis. Pokoknya beliin es blewah yang di pasar baru itu ya, Kang.”
Alhasil, aku mencuri jam kerja hanya untuk memutari pasar baru mencari es blewah. Namun setelah satu jam berputar aku tak menemukannya.
“Di pasar baru gak ada es blewah, Dik. Beli di tempat lain aja ya?” akhirnya aku menelponnya setelah pasrah mencari.
“Ada kok, Kang. Waktu itu Safira pernah beli di situ waktu habis beli kain. Cari lagi ya, Kang. Safira maunya yang di pasar baru, rasanya enak, Kang.”
Aku tak bisa menolaknya lagi. Kucari sekali lagi tapi tetap saja tak ketemu, adanya juga penjual es dawet dan sup buah. Akhirnya kuputuskan membeli buah blewah di supermarket terdekat dan kubawa ke penjual sup buah di pasar baru. Alhamdulillah penjual sup buah bersedia membuatkan es blewah untukku setelah aku bilang ‘untuk istri yang lagi nyidam’.
Sesampainya di rumah, aku melihat Safira sedang makan es blewah di mangkuk.
“Maaf ya, Kang, Safira baru inget kalau waktu itu Safira beli es blewah yang enak itu waktu di Kalapa, bukan di pasar baru. Jadi tadi Safira nyuruh Bi Yati beli buah blewah dan bikin sendiri es blewahnya jadinya.” Ucapnya tanpa nada rasa bersalah.
Huff….kalau bukan karena inget istriku lagi nyidam, aku ingin marah. Tapi ya sudahlah, yang penting Safira bisa tetap makan keinginannya. Es blewahnya yang kubeli akhirnya kumakan sendiri.

11 Oktober 2005
Perasaanku cemasnya bukan main. Aku hanya bisa mondar-mandir di luar ruang bersalin. Sejak magrib tadi aku belum berbuka dengan makanan, hanya air putih segelas untuk membatalkan puasa. Perasaanku benar-benar harap-harap cemas.
Ya Allah, aku menyerahkan sepenuhnya istri dan anakku kepada Engkau. Jagalah mereka Ya Allah…….
“Pak Rizal?” dokter keluar dari ruangan. Aku semakin dagdigdug.
“Iya, Dok? Gimana keadaan istri dan anak saya?”
“Anak bapak perempuan, sehat. Tapi keadaan istri bapak sangat mengkhawatirkan. Silakan masuk, Pak.”
Aku memasuki ruangan bersalin dengan perasaan yang tak karuan. Ya Allah, apa yang terjadi dengan bidadariku? Jagalah ia Ya Allah……
“Kang….” Ucap Safira sambil tersenyum sangat manis. “Perempuan….”
“Iya, Dik. Cantik sepertimu.”
“Mau dikasih nama apa, Kang?”
Aku terdiam. Aku belum menyiapkan nama untuk anakku. Dan kini aku hanya terfokus menatap keadaan Safira. Ya Allah, seandainya saja bisa bertukar tempat, biarlah aku saja yang terbaring menggantikan Safira.
“Kalau Zahra Ramadhani gimana, Kang? Bagus kan?”
Aku hanya mengangguk. Aku tak tahan untuk menahan air mataku. Jadi kubiarkan saja air mataku mengalir begitu saja.
“Kang? Kok nangis?”
“Gak apa-apa, Sayang.”
“Kang, Kang Rizal sayang sama Safira?”
“Iya, akang sayang sama Safira.”
“Akang ridho Safira jadi istri akang selama ini?” Ya Allah….bagaimana aku tak bisa ridho kepada istri seperti dia? Safira adalah anugrah terbesar dalam hidupku. “Kang, tolong jawab, Kang,” pintanya.
“Akang sangat ridho sama Safira,” jawabku sambil mengecup keningnya.
“Makasih ya, Kang. Safira bisa tenang sekarang.”
“Sama-sama, Sayang.”
“Kang Rizal…..maafin Safira ya, Kang. Safira gak bisa ikut membesarkan Zahra. Tolong bilangin ke Zahra ya Kang, uminya sangat mencintainya.”
“Dik, kita pasti bisa membesarkan dan mendidik Zahra bersama. Yang kuat ya, Dik. Kamu pasti bisa bertahan.”
“Maafin Safira ya, Kang. Tolong cari umi yang baik untuk Zahra ya, Kang.”
“Kamu pasti masih kuat, Dik. Tolong bertahanlah untuk akang dan anak kita. Akang panggil dokter dulu.”
“Gak usah, Kang. Safira pingin Kang Rizal tetap disini nemenin Safira.” Pinta Safira. “Ikhlaskan Safira ya, Kang. Tolong jaga Zahra baik-baik.”
Ya Allah, jangan ambil bidadariku. Aku masih ingin ditemaninya untuk membesarkan anak kami…..
“Kang…..”
Safira memberi kode dengan tatapan matanya. Ya Allah, apakah Engkau benar-benar akan mengambil istriku? Aku menuntunnya mengucapkan syahadat. Ia mengucapkan syahadat dengan lancar dan tersenyum. Ya Allah, tempatkan bidadariku di surga-Mu.

15 Januari 2006
Bulan-bulan duka cita itu masih kurasakan. Tapi aku harus kuat. Aku harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk anakku. Ya Allah….inikah jawaban darimu? Pertanyaanku atas kekurang suburanku. Engkau membiarkan aku memilikinya selama tiga tahun, dan setelah Kau memberikan penggantinya dengan bayi mungil ini, Kau mengambil bidadariku. Tiga tahun yang cukup singkat untuk menghabiskan hari-hari bersamanya…..
Pastinya aku tak bisa merawat Zahra sendirian. Sejak Zahra lahir sampai sekarang aku dibantu mama untuk merawat Zahra.
“Zal, mama gak akan selalu ada untuk membantumu. Zahra butuh sosok seorang ibu. Menikahlah lagi ya, Zal.” Mama berkata padaku.
“Maaf, Ma. Saya belum bisa melupakan Safira.”
“Mama tahu kamu gak bisa melupakan Safira. Tapi tolong pikirkan anakmu. Ia membutuhkan kasih sayang seorang ibu.”
Aku tak menjawab lagi komentar mama. Kini, fokus hidupku adalah membesarkan Zahra. Aku belum bisa melupakan Safira. Aku hanya ingin Safira lah satu-satunya bidadari surga buatku kelak. Ya Allah, pertemukanlah kami di surga-Mu….

3 September 2009
‘Safira kecilku’ kini telah tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Ia benar-benar mirip dengan uminya sehingga aku seperti sedang melihat Safira ketika melihat Zahra. Ya Allah, semoga aku masih cukup umur untuk mengantarkan putriku sampai ke pelaminan….
“Bi, Abi sayang Zahla?” Tanya Zahra, cedal.
“Iya, Nak. Abi sayang sama Zahra.” Aku memangkunya dan menciumnya.
“Zahla mau minta sesuatu, Abi mau ngasih?”
“Mau minta apa, Sayang?”
“Zahla pingin punya umi, Bi. Zahla pingin kaya teman-teman Zahla yang punya abi sama umi.”
Ya Allah….apakah aku memang tidak bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk anakku? Aku bisa menolak permintaan mama untuk menikah lagi. Tapi, jika yang memintanya adalah putriku? Ya Allah….berikanlah aku kekuatan…..
“Bi? Zahla pingin punya umi.”
“Iya, Nak. Sabar yah…..”
Ya Allah, berikanlah aku kekuatan. Jika memang aku tak bisa menjadi abi dan umi sekaligus untuk anakku, berikanlah ia seorang umi yang bisa mencintainya seperti aku mencintai putriku……

3 thoughts on “BIDADARI SURGA ITU BERNAMA ISTRIKU

  1. jyaaaaah.. (eh harusnya sedih cie!)
    ihiks.
    ng.. idenya oke. cuma kurang gurih ajah nis.. hhe. olah lagiii..
    maap ya ngeritik mulu pdhl karya aja aku blm punya. :)V

    • aq memang butuh kritik dan saran. thx ya….
      itu cerpen kilat kekejar deadline:D, tapi cukup membuatku termehek-mehek, hi9x. nangis juga gak ci bacanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s