LARI BERSAMA MALAIKAT

“Jongkok!” Suara pelan namun tegas keluar dari mulut sang PA—Pemangku Adat—yang terkenal super galak. Ia menyuruh ‘para korbannya’ masuk ke dalam bangsal dengan berjongkok.
Masuk sambil jongkok? Memangnya kita ini siapa?
“Hei kamu! Kenapa nggak jongkok sepereti yang lain? Nggak dengar apa kalau tadi disuruh masuk bangsal dengan ber-jong-kok, bukan ja-lan.” Sang Pemangku Adat berbicara lagi, kali ini hanya padaku.
“Maaf Kak, ini kan hanya gladi resik.” Aku menjawabnya santai.
“Ya sudah. Nanti sewaktu upacara sungguhan kamu harus masuk bangsal dengan benar. Siapa pun dilarang menodai kesucian upacara adat, ingat itu!” Aku tak mengangguk ataupun menggeleng.
Suara gamelan Jawa berbunyi menandakan upacara adat sungguhan akan dimulai. Rasa-rasanya aku ingin bertukar tempat saja dengan para penabuh itu. Lebih asyik menabuh gamelan daripada mengikuti upacara adat yang nggak jelas apa tujuannya selain hanya untuk mendapatkan bed identitas pramuka sekolah yang akan dipasang di lengan kiri baju pramuka.
****
“Kamu jadi pura-pura sakit, Din?” Tanya Bulan.
“Gimana ya? Kamuanya juga nggak mau nemenin aku. Kalau nanti aku pura-pura sakit di UKS sendirian, cuma ditemenin sama anak PMR gimana? Anak PMRnya kan yang jaga sekarang cowok semua, Lan.”
“Sudahlah. Ikut acaranya aja, yang penting hati kita kan nggak menerimanya, Din?”
“Gimana ya? Walaupun gitu, tetap aja aku nggak rela melakukannya.”
“Stt…stt…ada D-A!” bisik Bulan memperingatkan Dinda. “Jadi kamu benar-benar mau pura-pura sakit, Din?” lanjutnya lagi setelah para Dewan Ambalan—DA—berlalu.
“Ya nggak lah,” jawab Dinda.
“Terus?”
“Lihat aja nanti,” jawab Dinda sambil tersenyum. Kini ia telah menemukan cara yang dianggapnya aman.
****
Suara gamelan Jawa terdengar begitu nyaring dikeheningan malam. Para peserta upacara adat Penerimaan Calon Penegak—PCP—berbaris di koridor untuk bergantian memasuki bangsal. Kini, aku berada di sini bukan lagi sebagai peserta upacara adat seperti satu tahun yang lalu. Namun, justru sekarang akulah yang mengadakan upacara adat ini. Aneh. Padahal dahulu akulah satu-satunya orang yang menolak acara upacara adat seperti ini. Aku ingin melakukan sesuatu hal. Namun, sungguh susah, tidak seperti yang kubayangkan dahulu. Hatiku menuntutku, tapi di lain pihak aku mempunyai sebuah tanggung jawab yang bertolak belakang dengan hatiku. Mungkin, aku yang terlalu berani bermain api. Berharap dengan menerima tanggung jawab itu aku akan bisa sedikit mengubah acara upacara adat yang menurutku banyak berbau syirik.
****
“Wah, Din, akhirnya ikut juga! Nyerah nih?”
“Nggak lah ya. Aku bilang kan tadi lihat aja nanti. Lihat aksiku lima belas menit lagi ketika aku masuk bangsal.”
“Memangnya kamu mamu ngapain?”
“Mengulang kejadian satu tahun yang lalu.”
“Memangnya satu tahun lalu ada kejadian apa?” Bulan semakin penasaran.
“Udah deh, lihat saja nanti. Mas Agung pradananya kan? Aku yakin dia nggak bakalan ngasih hukuman ke aku.”
“Huh….PD banget! Memangnya dia itu siapamu?”
“Saudaraku seiman sebangsa dan setanah air. Hehe….! Dia kan lakon kejadian satu tahun lalu yang akan kutiru nanti.
“Iya, Mas Agungnya nggak ngasih hukuman ke kamu, tapi pradani sama pemangku adatnya yang bakalan ngasih hukuman ke kamu.” Bulan menakuti Dinda.
“Coba saja kalau berani! Dinda….kok dilawan!”
“Jangan takabur loe, Non!”
“Tapi tetapkan kalau pradana adalah posisi tertinggi di Dewan Ambalan ini dan jabatan itu dipegang sama Mas Agung?”
“Stt…Stt….jangan berisik!” tegur orang di belakang Dinda. Dinda dan Bulan tersenyum dan saling pandang.
Satu persatu peserta upacara adat memasuki bangsal. Sebelumnya mereka mencuci muka mereka dengan air sabun wangi berbagai bunga yang sangat menyengat. Entah dicampuri apa saja air tersebut sehingga wanginya menusuk hidung dan membuat pusing. Bulan sudah tak sabar menunggu aksi Dinda. Bulan tahu bahwa Dinda orangnya nekatan. Dia tidak akan melakukan sesuatu hal yang tidak sepaham dengan hatinya. Waktu MOS dahulu, Dindalah satu-satunya peserta MOS yang berani membongkar sandiwara panitia MOS. Waktu itu panitia MOS benar-benar dibuatnya geram. Hingga kini pun masih ada beberapa panitia MOS yang menaruh dendam pada Dinda. Namun, bukan Dinda namanya kalau ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya.
Giliran Dinda memasuki bangsal. Serentak hampir semua mata memandangnya, terutama mata para Dewan Ambalan. Tatapan marah, kaget, bahkan tatapan khawatir dari Bulan mengarah pada Dinda yang dengan tenangnya masuk bangsal dengan berjalan tegap biasa—tidak jongkok sedikit pun.
“Kamu telah merusak kesucian upacara adat ini. Aku nggak mau ribut sekarang. Jadi, setelah upacara adat ini selesai, kamu harus mengahadap!” kata pemangku adat pelan tapi tegas sambil menatap Dinda dengan tatapan marah.
Dinda hanya tersenyum. Memangnya siapa yang takut? Aku kan punya Mas Agung. Ups…..,maaf ya Allah. Maksudku, aku punya diri-Mu. Engkau pasti akan menolongku kan? Dinda menghibur dirinya sendiri.
“Benar-benar nekat kamu, Din!” bisik Bulan di dalam bangsal. Mereka duduk berjejeran di dekat tiang bangsal. Bangsal yang mereka tempati hanya diterangi oleh lilin-lilin saja. Benar-benar kembali ke zaman bahola.
“Santai saja lagi.”
“Kamu tuh! Aku aja yang lihat sampai dagdigdug khawatir kaya gini, kamunya malah santai gitu.” Dinda hanya tersenyum, tak ada kegundahan yang terpancar dari wajahnya. “Jadi, yang kamu lakukan tadi itu juga pernah dilakukna sama Mas Agung?”
“Yup, begitulah.”
“Tapi kok bisa ya Mas Agung jadi pradana?”
“Mana kutahu. Mungkin karena Mas Agung rajin berangkat pramuka sama ikut acara kemahnya calon bantara. Kamu tahu kan kalau cuma sedikit orang saja yang niat sama pramuka.
“Kamu nggak takut dapat hukuman dari D-A yang galak itu?”
“Kenapa harus takut? Pradananya Mas Agung gitu lho! Masa sih dia nggak mau membela orang yang sepaham dengan dia? Jangan lupa ya, aku punya Allah. Udah ah, ngantuk, aku mau memejamkan mata dulu.” Bulan hanya geleng-geleng kepala. Dinda menundukkan kepalanya. Matanya terpejam. Sesungguhnya ia tidak benar-benar tidur. Pikirannya masih belum bebas, ia memikirkan hukuman apa yang akan ia dapatkan nanti. Dulu Mas Agung mendapatkan hukuman lari memutari lapangan bola sekolah sebanyak dua kali. Apakah Dinda kuat jika harus mendapatkan hukuman minimal sama seperti Mas Agung? Ah, cuek aja lagi, tenangnya pada dirinya sendiri.
Suara gamelan masih terdengar. Kali ini bukan mengiringi peserta upacara adat memasuki bangsal, tetapi mengiringi guru, pradana dan orang-orang perwakilan dari setiap organisasi sebagai tamu kehormatan untuk memasuki bangsal.
“Din, Dinda, bangun, Din!”
“Apa-an sih?”
“Lihat siapa yang datang?” Dinda mendongakkan kepalanya. “Mas Dhani, Din!” Mas Dhani yang disebut oleh Bulan adalah ketua OSIS SMA mereka. Selain ketua OSIS yang datang, ada juga perwakilan dari Rohis, English Club, Pecinta Alam, PMR, MPK.
“Duh, histeris banget. Baru ketua OSIS yang datang aja kamu udah histeris, apalagi kalau yang datang presiden?”
“Justru kalau yang datang presiden, aku nggak bakalan histeris. Kalau yang datang Duta Sheila on Seven, baru aku histeris.” Dinda hanya geleng-geleng kepala.
“Jaga tuh mata! Inget, dari mata turun ke hati!”
“Nggih, Ndoro….” Dinda mendengus. Ia kesal jika dipanggil dengan panggilan-panggilan seperti itu.
Pembina pramuka mulai memberikan sambutan menggunakan Bahasa Jawa yang sangat halus yang amat jarang digunakan oleh anak muda zaman sekarang ini. Alhasil, selain karena hari telah menunjukkan pukul sembilan malam, para peserta upacara adat banyak yang mengantuk.
“Aku heran. Ngapain coba Pak Tri ngomong panjang lebar pakai Bahasa Jawa kaya gitu kalau ternyata nggak ada yang paham. Din, kamu paham nggak? Din! Eh….ni anak malah tidur.”
****
“Lan, kamu duluan ke kelas. Aku harus menghadap D-A dulu,” ucap Dinda setelah ritual upacara adat selesai dan mereka diperkenankan untuk siap-siap tidur di dalam kelas.
“Hati-hati ya, Din! Aku doain deh supaya kamu nggak diapa-apain sama mereka.”
“OK! Trims. Tenang aja lagi!”
****
“Kenapa tadi kamu merusak kesucian upacara adat di bangsal?” Tanya Dewi, sang pemangku adat yang super galak.
“Saya tidak merasa telah merusak kesucian upacara adat. Saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar.”
“Junior sudah berani melawan! Apa pun alasanmu, yang jelas kamu tadi telah merusak kesucian upacara adat.”
“Ini soal prinsip. Maaf, jalan sambil jongkok seperti itu bertentangan dengan keyakinan saya. Untuk mempertahankannya, saya akan melakukan apa pun.”
“Siapa namamu?” Tanya pradani agak lembut.
“Dinda.”
“Nama lengkap?”
“Raden Roro Dinda Ayu Kusumawardhani Hardiatmoko.”
“Aneh, padahaal dari namanya, kamu orang kejawen, tetapi malah merusak kesucian upacara adat.” Dewi menyindir Dinda.
“Tenang, Wi!” Reni berusaha menenangkan Dewi.
“Nama saya boleh kejawen. Tetapi prinsip dan perilaku saya tidaklah seperti orang kejawen lainnya.”
“Udahlah nggak usah membela diri. Sekarang kamu harus menerima hukuman akibat perbuatanmu tadi. Kira-kira apa hukumannya, Ren?” Dewi bertanya kepada sang pradani.
“Seperti tahun lalu?” usul Reni, lebih tepatnya disebut sebuah pertanyaan.
“Ah, ya, lari mengelilingi lapangan sepakbola sekolah. Ehm….empat kali putaran mungkin akan membuatmu jera.” Dinda kaget mendengarkan kalimat itu. Bagaimana jadinya ia lari mengelilingi lapangan sepak bola empat kali dimalam yang dingin ini? Membayangkanya saja ia sudah tak kuat.
“Terlalu banyak, Wi.” Reni memberikan komentarnya.
“Maaf mengganggu.” Aku, sang pradana datang menemui mereka.
“Sorry Gung, ini bukan daerah kekuasaanmu. Urusan peserta cewek adalah urusanku dan Reni.”
“Tapi aku pradana di sini.”
“Jadi, kamu mulai menggunakan kekuasaanmu?”
“Aku hanya menjalankan tugasku. Kalau ada masalah, aku berhak tahu kan?”
“Jadi, sekarang di sini kamu mau membela cewek ini? Seseorang yang melakukan kesalahan sama seperti kamu satu tahun yang lalu.”
“Kalau keyakinan dia memang seperti itu, mengapa kita meributkannya? Toh, dia melakukannya karena mempertahankan prinsipnya, bukan karena yang lain,” belaku.
“Beruntung sekali kamu Din, sang pradana mau membelamu. Namun, kesalahan tetaplah kesalahan, apa pun alasannya. Jadi, hukuman tetap berlaku untukmu, Din. Tiga kali putaran gimana, Ren?”
“Tapi Wi, itu terlalu banyak. Jangan memberikan hukuman fisik seperti itu, Wi!” Aku berusaha membantunya lagi.
“Aku nggak tanya sama kamu, Gung! Aku tanya sama Reni!”
“Sudah! Sudah! Kalian jangan rebut sendiri!” sahut Reni yang mulai kesal. “Satu kali putaran saja!”
“Tidak! Tidak, Ren! Dia tidak akan jera! Dua kali putaran! Ayo Din, ikut aku ke lapangan!”
“Wi, jangan menyalahgunakan jabatanmu!” bentak Agung.
“Oh ya? Harusnya itu perintah untuk dirimu sendiri!”
“Kamu dendam sama Dinda kan?” Tanyaku. Semua orang tahu kalau Dewi dendam sama Dinda gara-gara peristiwa MOS lalu. Dewi merupakan salah satu panitia MOS, komisi kedisiplinan.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Gung! Ayo Din, ikuti aku!” Dinda berjalan mengikuti Dewi ke lapangan.
Payah! Membela seseorang yang melakukan hal yang sama sepertiku dulu saja tak bisa. Percuma saja aku menjadi pradana. Reni pun tak dapat mempengaruhi Dewi.
****
Bulan belum bisa tidur. Ia mencemaskan Dinda karena hingga jam setengah dua belas malam Dinda belum kembali. Akhirnya Bulan nekat keluar kelas menuju sanggar pramuka, tempat terlarang untuk disinggahi seorang peserta PCP.
“Mas Agung! Dinda mana?” tanyanya padaku.
“Dibawa Dewi ke lapangan bola. Ia dapat hukuman dari Dewi.”
“Mas Agung gimana sih? Katanya aktivis Rohis! Katanya dulu Mas Agung satu-satunya orang yang tidak setuju dengan ritual-ritual seperti itu! Sekarang kok malah membiarkan Dinda dapat hukuman dari orang galak itu! Padahal Dinda yakin kalau Mas Agung akan membelanya jika terjadi apa-apa!” Bulan benar-benar marah padaku.
“Maaf Dek, aku sudah berusaha membela Dinda.” Memang, memiliki tanggung jawab yang berlawanan dengan prinsip itu tidaklah mudah.
“Makanya jangan mencoba bermain api kalau nggak ingin terbakar! Dinda dapat hukuman apa?”
“Lari mengelilingi lapangan bola dua kali.”
“Apa?!?” Bulan terkejutnya bukan main. “Mas Agung jahat! Tengah malam begini disuruh lari!?! Fisik Dinda itu nggak kuat, dia punya asma!” mendengar itu, kini aku yang terkejut. Bulan berbalik dan berlari ke lapangan, aku mngikuti di belakangnya.
Semoga belum terlambat, batinku. Tiba-tiba saja aku jadi cemas. Jika terjadi sesuatu pada Dinda, maka semua itu adalah salahku.
Terlihat dari kejauhan, seorang gadis berjilbab berlari memutari lapangan. Itu Dinda! Larinya begitu ringan. Mungkin ia mendapat dorongan dari melaikat. Lari bersama malaikat. Setibanya aku dan Bulan di lapangan, Dinda pun telah mencapai finish. Wajahnya pucat, nafasnya tak teratur. Ya Rabb, asmanya kumat.
“Dinda!!!!” Bulan teriak histeris melihat kondisi sahabatnya itu.
****

2 thoughts on “LARI BERSAMA MALAIKAT

  1. Assalamualaikum,
    ngasih komen ah..
    he27x(sok banget nih aku, padahal yang ngajarin nulis tu sapa ya?)
    Oke, dari segi cerita..Islamnya kentel banget, musti dipertahankan, perjuangkan idealisme!…
    Dari segi penyampaian dan bahasa, cukup ngalir, yang agak bingung tu di paragraf ketiga. Belum jelas tokoh si aku(atau aku yang kurang teliti ya? atau emang sengaja dibuat nggak jelas?). nah baru tahu kalau si aku ternyata Agung pas dia mbela Dinda.
    Soal gaya bahasa, mbak dah punya karakter tuh, tinggal diasah biar jadi kuat n tajem (kalau aku sih mash nyari2 karakterku, he27x)
    Keep writing mbak, sukses buat mbak.

  2. tokoh ‘aku’ emg bkn tkoh utma,hny sbg tkoh sampingn sdut pandang pertama,jd emg kudu tliti bwt th sypa sbnrny ‘aku’.
    ok ok,thx saran2ny. qt tetep lthn nulis trz yo! smangat!
    kutunggu karya2mu slanjutny.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s