PELUKAN TAKDIR

Aku duduk di atas rerumputan halaman belakang rumah, tempat favoritku setiap malamnya sejak bertahun-tahun lalu. Entah ini telah malam keberapa kalinya aku sendirian menatap langit. Yah, sejak lima bulan yang lalu aku memang selalu sendiri menatap langit malam, seperti malam ini. Namun, kini sepertinya langit pun tak mau bersahabat denganku lagi. Di mana kalian? Mengapa aku hanya melihat satu saja? Ah ya, aku lupa, akhir-akhir ini memang cuaca tak mau bersahabat denganku lagi. Ya sudahlah, malam ini aku akan mengalah. Tapi kalian tidak akan meninggalkanku seperti ia telah meninggalkanku untuk selamanya kan? Kini, aku hanya menatap satu bintang yang terlihat itu. Aku baru tahu mengapa namaku memiliki arti yang sama dengan yang kulihat kini. Lintang Kartika…. Nama yang indah bukan? Sama indahnya dengan bintang yang kulihat kini. Dua kata yang sama-sama berarti sama dengan yang kulihat kini, bintang…..
****
”Yuk, berangkat, Pa!” ajakku pada papa.
”Lama banget sih dandannya,” komentar Mas Dimas, kakakku satu-satunya, yang lagi nonton TV. Hari ini aku mau pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket dengan ayahku, hanya berdua saja.
Seperti biasa, aku tak merespon komentar kakakku. Aku memperhatikan penampilanku sekali lagi. Ah, sepertinya warna baju yang kupakai ini terlalu mencolok. Mama pasti tak suka melihatnya.
”Tunggu sebentar ya, Pa!” Aku kembali lagi ke kamarku. Tak kuhiraukan lagi Mas Dimas yang pastinya berkomentar macam-macam. Siapa juga yang lama berdandan? Aku kan bukan tipe cewek yang suka dandan. Aku tadi hanya bingung mau pakai baju apa. Yah, walaupun hanya sekedar ke supermarket.
Kukeluarkan baju warna biru dari lemari dan langsung kukenakan. Kuberdiri di depan cermin sekali lagi untuk memperhatikan penampilanku.
”Bagus kan, Ma?”
”Iya, bagus kok. Cocok buat Lintang. Baju biru ini lebih cocok untukmu daripada baju kuning itu.” Aku tersenyum.
”Bener, Ma?” tanyaku sekali lagi untuk memastikan.
”Iya, benar.” Ah, tentu saja.
”Aku pergi dulu ya, Ma.”
”Lin, jangan sampai nanti papamu membeli rokok ya!”
”Beres, Ma.” Aku tahu kalau mama sama sekali tak suka jika papa merokok. Sejak lima bulan lalu, papa mulai merokok.
Aku keluar kamar sambil tersenyum.
”Ayo berangkat, Pa!”
”Lho, kamu ganti baju, Lin?” tanya papa heran. Mendengar pertanyaan papa, Mas Dimas pun langsung menoleh ke arahku.
”Ya ampun, Lin. Kamu tuh kenapa ganti baju? Udah ditunggu lama sama papa malah ganti baju, tambah lama tahu nggak?” tanya Mas Dimas.
”Kata mama aku lebih cocok pakai baju ini.”
Hening. Ayah dan Mas Dimas hanya terdiam mendengar alasanku. Mungkin bagi mereka, alasanku ini terlalu konyol atau bahkan tak masuk akal.
”Lin, kamu sadar, kan?” tanya Mas Dimas khawatir.
”Udah ah, yuk, Pa!” Aku tak menjawab pertanyaan Mas Dimas dan hanya menggandeng tangan papa keluar rumah.
”Dimas, jaga rumah ya!” Papa memberi pesan kepada Mas Dimas. Padahal hari Minggu seperti ini biasanya selalu ia gunakan untuk main dengan teman-temannya, tapi kali ini ia harus ikhlas menerima pekerjaan menjaga rumah.
”Beres, Pa.”
Di supermarket, aku mulai membeli kebutuhan rumah sehari-hari. Aku mulai mengambil sabun, sampo, pasta gigi, pengharum ruangan, kecap, saos, telur, kopi, teh, susu, dll. Sejak lima bulan lalu aku memang telah terbiasa berbelanja bersama papa di supermarket ini.
Kulihat papa mengambil beberapa bungkus rokok. Spontan saja tanganku langsung mengambil rokok-rokok itu dari tangan papa dan mengembalikannya ke tempat semula.
”Jangan ya, Pa….”
”Kalau gitu beli satu bungkus aja ya, Lin?”
”Jangan, Pa. Nanti kita makan es krim aja yuk?!”
”Satu bungkus aja ya, Lin?” bujuk papa dan aku pun langsung menggeleng.
”Jangan ya, Pa. Tadi mama bilang ke Lintang supaya papa jangan merokok.” Ayah terdiam melihatku. Namun, tak kuhiraukan tatapannya.
”Lin…..” Ayah tak melanjutkan kalimatnya.
”Udah ah, yuk, Pa!” Papa masih menatapku resah. Apakah kata-kata yang baru kuucapkan tadi itu salah? Tak kuhiraukan tatapan papa dan aku pun menggandeng lengan papa, mengajaknya ke kasir.
****
Aku baru saja sampai di rumah. Untunglah aku sampai di rumah sebelum adzan maghrib, sehingga aku bisa berbuka puasa di rumah. Hupf….rasanya lelah sekali. Kaki dan badan pegal-pegal semuanya. Rasanya menjadi anak kuliahan itu beda sekali dengan jadi anak SMA. Kalau begini rasanya, aku lebih suka jadi anak SMA saja. Hmm….baru tiga bulan jadi anak kuliahan aja rasanya udah capek kaya gini. Hupf…sabar…mungkin akunya saja yang belum bisa beradaptasi.
”Ma…aku lelah……”
”Lelah kenapa, Sayang?”
”Hupf…baru pulang ni, Ma. Tadi habis ngerjain tugas di rumah teman. Tapi nggak hanya jasadku saja yang lelah. Ruhiyahku juga lelah. Aku lelah lahir batin, Ma. Lintang lelah….bingung….apakah hidup itu memang begini ya, Ma?”
”Sabar ya, Nak. Lintang memang harus menerima semua kenyataan ini.”
”Lintang kadang ingin masuk ke dalam gelembung sabun, menghilang sejenak dari perputaran waktu. Ternyata, menjadi anak-anak itu jauh lebih menyenangkan ya, Ma? Kalau bisa memilih, Lintang lebih suka jadi anak kecil saja.”
”Menjadi anak kecil memang menyenangkan. Tapi, inilah hidup, Lin. Kita tak bisa menjadi anak-anak terus. Ada waktunya kita memang harus menjadi dewasa. Waktu itu terus berjalan dan kita harus berani menerima dan menghadapi semua kenyataan yang ada.”
”Apakah berarti aku juga harus menerima kenyataan saat ini?”
”Lintang kan bukan anak kecil lagi. Lintang pasti bisa menjawabnya.”
”Tapi aku belum siap, Ma. Aku belum siap….”
”Suatu saat nanti kamu akan mengerti, Nak.”
”Ah, entahlah, Ma. Sekarang ini lahir batinku benar-benar lelah.”
”Ya sudah, sebentar lagi adzan. Lintang mandi dulu ya….”
****
”Nah, ini dia baru pulang,” kata papa pada seseorang ketika aku memasuki rumah setelah mengucapkan salam. Kulihat di ruang tamu selain ada papa dan Mas Lintang, ada juga seorang wanita. “Duduk sini, Lin. Ini Mbak Anggrek.” Papa mengenalkannya padaku. Wanita yang bernama Anggrek itu tersenyum dan aku pun membalas senyumnya. “Mbak Anggrek ini psikolog, Lin.”
Aku mengernyitkan keningku. Psikolog? Buat apa papa membawa seorang psikolog ke rumah?
“Mbak Anggrek ini ingin ngobrol denganmu, Lin.”
Oh…, aku baru paham maksud papa membawa psikolog itu ke rumahku dan menyuruhnya untuk mendekatiku.
“Pa, Lintang nggak gila. Lintang masih waras.”
”Iya, papa juga tahu itu. Papa cuma ingin kamu ngobrol sama Mbak Anggrek.”
”Nggak mau. Itu sama saja papa menganggapku punya penyakit jiwa.”
”Kalau bukan penyakit, lalu apa namanya, Lin? Kamu bukan anak kecil lagi dan seharusnya kamu bisa menerima semua kenyataan ini! Sudah hampir setengah tahun terjadi, Lin!” Mas Dimas menyudutkanku.
”Pelan-pelan kalau bicara sama adikmu, Dimas!” Papa menegur Mas Dimas.
”Mas, mau bilang aku gila? Mas bilang aku nggak bisa menerima kenyataan? Siapa yang sebenarnya nggak bisa menerima kenyataan? Aku atau Mas Dimas? Mas Dimas kan yang sekarang jadi nggak jelas kaya gitu, suka nongkrong, keluyuran nggak jelas dan sama sekali nggak peduli sama adiknya ini!”
“Tapi bukan dengan menganggap kalau mama masih hidup kan, Lin?” tanya Mas Dimas pelan.
”Siapa yang menganggap mama masih hidup, Mas? Siapa? Aku sadar betul kalau mama telah meninggal setengah tahun lalu. Tapi apa aku salah kalau aku tak bisa menghilangkan mama dari ingatan dan hatiku?”
”Lalu mengapa tingkah lakumu menunjukkan kalau seolah-olah mama masih hidup?”
”Tingkah laku yang mana, Mas?”
”Ya kebiasaanmu bicara sendiri, atau bilang ke papa atau Mas kalau ’mama nggak suka ini-itu, kata mama tadi begini-begitu,’ padahal mama telah tiada, Lin. Kamu sadar, kan?”
Yah, aku memang suka bicara ke papa dan Mas Dimas seperti itu. Waktu itu aku pernah memarahi pembantu gara-gara pembantuku itu masak masakan yang pedas semua. Padahal kan mama tak suka masakan pedas. Walaupun mama memang telah tiada, aku tak ingin ada perubahan di rumahku. Dan memang banyak kejadian lainnya yang selalu saja membuat papa dan Mas Dimas menatapku dengan tatapan resah.
”Aku hanya nggak ingin kalian melupakan mama begitu saja. Pa, aku masuk kamar dulu. Aku capek. Tenang saja, Pa, anak papa ini tidak membutuhkan seorang psikolog.”
”Lin….,” cegah papa.
”Biarkan dulu, Pak,” kata Mbak Anggrek pada papaku.
Aku meninggalkan mereka dalam kebisuan mereka. Ah, apakah mereka pikir aku ini telah gila? Apakah salah jika aku tak bisa melupakan mama? Atau hanya caraku saja yang salah dalam mengekspresikannya?
”Ma….apakah Lintang salah?” tanyaku pada mama setelah kuberada di dalam kamarku yang gelap. Aku sengaja tak menghidupkan lampu kamarku.
Yah, selama ini sejak hampir setengah tahun mama meninggal, aku sering bicara dengan mama. Bukan bicara sendiri seperti orang gila. Tapi mama memang benar-benar ada di dalam pikiran dan hatiku. Jadi, aku selalu berbicara kepada mama dengan hatiku di dalam imajinasiku. Yah, hanya di dalam dunia imajinasi, dunia imajinasi yang mungkin terlalu sulit dipahami oleh papa dan Mas Dimas. Jadi, mereka tak akan mengerti apa yang kurasa dan kulakukan.
”Ma….apakah Lintang salah?” tanyaku sekali lagi. Mama hanya terdiam, tak memberi jawaban. ”Apakah aku salah jika aku bertingkah laku seolah-olah mama ada di dekatku? Aku hanya tak ingin ada yang berbeda dan berubah di rumah ini walaupun mama telah meninggal.”
Aku menangis.
Apakah memang benar Allah tak menyukai cintaku untuk-Nya tersaingi dengan cintaku untuk mama? Alasan itukah yang membuat Allah mengambil mama dariku? Pertanyaan seperti itu selalu kutanyakan ketika berdoa setelah sholat. Aku pikir selama tujuh belas tahun ini aku telah merumuskan banyak rumusan cinta untuk Allah. Namun apakah sebenarnya rumusan itu hanyalah sekedar teori yang belum memasuki hatiku? Sepertinya pun aku belum benar-benar bisa memasukkan rumusan-rumusan cintaku itu untuk Allah ke dalam hatiku. Hupf…..
”Dan aku belum bisa menerima keinginan papa untuk menikahi Tante Laras. Semudah itukah mereka melupakanmu, Ma?”
”Lintang….papa dan Mas Dimas sayang mama seperti kamu menyayangi mama. Hanya cara mereka saja yang berbeda.”
”Tapi aku belum bisa untuk menerima perubahan di rumah ini dan kehadiran orang asing di kehidupanku.”
Aku masih hanyut dalam air mataku.
”Lintang, papa boleh masuk?” Tiba-tiba papa mengetuk pintu kamarku. Aku hanya terdiam dan terbaring menghadapkan tubuhku ke tembok.
Tanpa mendapat jawaban dariku, papa membuka pintu kamarku pelan-pelan dan masuk ke dalam kamarku.
”Oh…sudah tidur ternyata.” Aku memang pura-pura tidur dan membelakangi papa. Papa menghembuskan nafasnya berat. ”Lin, bukan hanya kamu saja yang merasa kehilangan mama. Papa dan Mas Dimas pun sangat kehilangan mama. Papa juga tahu kalau kamu nggak mau menerima Tante Laras sebagai mama barumu. Kalau itu memang maumu, papa akan mengalah.”
Hupf….seegois inikah aku pada papaku sendiri? Aku tahu papa sangat kehilangan mama, aku tahu seberapa dalamnya cinta papa untuk mama. Lalu, apakah kini aku akan menyakiti orang yang sangat mencintai mamaku? Aku bukan anak kecil lagi yang hanya bisa menangis apabila keinginanku tak dipenuhi. Pa, maafkan aku….
”Pa…..,” panggilku ketika papa keluar dari kamarku. Aku bangkit dari tempat tidurku, memeluknya dari belakang.
Pa, aku tahu, mama tak akan pernah hilang dari hati kita. Orang yang telah meninggal dunia sebenarnya tak akan pernah benar-benar telah meninggalkan kita, karena ia akan hidup di hati kita.
”Aku ikhlas, Pa. Aku telah mengikhlaskan kepergian mama dan aku pun ikhlas kalau memang papa mau menikahi Tante Laras…..”
Takdir telah memelukku. Benar kata mama, aku harus berani menerima kenyataan apa pun itu dan aku pun tak ingin cintaku untuk-Nya tersaingi dengan apa pun….
Kulihat mama tersenyum padaku.
Rupanya, bukan tujuh belas tahun aku merumuskan cintaku untuk Allah, lebih tepatnya sampai hari ini di hari umurku telah genap tujuh belas tahuh lebih enam bulan…

SELESAI

2 thoughts on “PELUKAN TAKDIR

    • udah keseringen bikin yang sad ending. itu happy ending juga ada yang nangis bacanya, gimana kalau sad ending…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s