Feeds:
Tulisan
Komentar

catatan seorang hamba (2)

Seseorang entah berapa umurnya, yang jelas kedewasaannya melebihi umurnya, selalu bermimpi dan berharap. Buka harapan atau mimpi bertemu dengan idolanya seperti kebanyakan mimpi remaja pada umumnya. Namun, mimpi yang sebenarnya ingin ia beritahukan hanya saja tak sanggup ia katakan dan matanya yang mulai berembun yang akan menjawabnya. Sungguh, bukan maksud hatinya tuk menangis, ia hanya ingin mencairkan kebekuan hatinya yang tak dapat berucap. Doa, harapan, mimpi adalah semangat hidupnya. Hidup yang tak lama baginya ini—dan tentunya bagi semua manusia pemilik nama. doa yang tak putus-putusnya ia panjatkan yang merupakan puncak dari cintanya. Cinta yang baginya adalah penerang kedamaian bagi kalbu yang kesepian akan embun. Harapan baginya adalah seuntai kata manis bagi orang yang akan tenggelam di dalam tanah. Mimpi baginya adalah jalan dari munculnya sebuah harapan.
Akan selalu ada denyut nadi untuk berusaha lebih baik walau di akhir segala pengharapan dan keterasingan. Kini ia mencoba hidup layaknya yang wajib dilakukan manusia. Tersenyum, menolong orang lain walaupun terkadang ia sendiri dalam kesusahan. Semua dilakukannya untuk mencairkan hatinya. Lanjut Baca »

3 Juni 2002
Umurku genap sudah dua puluh lima tahun. Aku menghubungi murobbiku kembali untuk menanyakan bagaimana nasib proposalku yang kuajuin ke beliau seminggu yang lalu. Syarat yang kuminta tidaklah banyak. Cukup hanyalah sholehah dan kalau bisa masih satu almamater denganku. Aku tersenyum. Apakah ini berarti aku masih mengharapkan ‘dia’? Cinta saat aku masih menjadi mahasiswa di institut terbaik di negeri ini?
Ah, tapi aku ingin benar-benar menyerahkan sepenuhnya kepada sang murabbi. Entah siapa yang akan beliau tawarkan, semoga aku bisa benar-benar mencintainya dan merajut rumah tangga untuk menggapai ridho-Nya. Lanjut Baca »

PUTRI BINTANG

PROLOG
Bandung yang dingin sepertinya tak semakin membuatku semakin dingin. Aku tahu, di saat hampir dua puluh dua tahun sudah aku menghirup udara di dunia ini, ada banyak hal yang telah membuatku mengalami pendewasaan diri, lebih memahami diriku dan orang lain.
Aku tersenyum kecil kalau ingat masa-masa SMA ku dulu, masa-masa indah namun juga kelam. Kelam, hanya karena aku tak bisa begitu saja menerima suratan takdirku. Indah, yah, tak kupungkiri ada banyak hal yang bisa aku lakukan saat itu yang tak bisa kulakukan saat ini.
Aku sengaja memperlambat langkahku walaupun waktu telah menunjukkan hampir mendekati tengah enam. Kunikmati angin yang bertiup. Tak lama lagi akan kutinggalkan suasana kampus kecil namun indah ini, kampus yang telah banyak melahirkan pemimpin bangsa dan ilmuwan, kampus yang mendapat julukan dari sebagian orang sebagai institut terbaik bangsa. Yah, walaupun aku tak mendapatkan jurusan pilihan pertamaku. Tapi aku tetap bersyukur, akhirnya bisa mencintai kimia ini, pelajaran yang tak kusukai sejak SMA.
Setelah mengambil uang dari ATM, kulanjutkan jalanku melalui lapangan sipil. Jarang sekali aku pulang ke kos melewati gerbang depan utama atau pintu timur, kecuali jika aku berniat mampir ke masjid Salman. Lapangan sipil ini merupakan salah satu tempat favoritku di kampus ini. Rumput yang basah dan pohon-pohon lebat ini akan selalu membuat hatiku merasa selalu nyaman.
Terlihat sekelompok anak kecil bermain sepak bola. Jika telihat satpam, mereka bisa diusir. Bandung memang telah kehilangan lahan, sampai lapangan kampus pun digunakan main oleh anak kecil di sekitarnya. Kasihan sekali mereka kekurangan lahan bermain.
Bola yang ditendang salah satu dari mereka mengarah ke arahku. Aku ambil dan melemparnya kembali ke arah mereka.
“Makasih, Teh!” teriak salah satu di antara mereka. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan jalanku kembali sambil mengingat perbincanganku dengan pembimbing Tugas Akhirku tadi siang.
“Setelah lulus mau ada rencana apa, Han?”
“Setelah lulus saya mau menikah, Bu.”
“Hmm…..sudah punya calon ternyata,” kata Bu Mega sambil tersenyum. Aku pun hanya tersenyum untuk menanggapi kalimatnya itu. Sudah sejak bertahun-tahun lalu aku menunggu saat-saat untuk bisa bersanding dengannya. Aku rela menghabiskan hari-hariku di laboratorium analitik sejak semester lalu hanya untuk mengerjakan proyek Bu Mega yang juga dijadikan sebagai bahan TA ku. Kini aku masih punya banyak waktu untuk menyusun buku TA. Aku berharap bisa lulus tepat waktu karena itu merupakan salah satu syarat untukku menikah dari papa—lulus dahulu. Sehingga tawaran proyek selanjutnya dari Bu Mega kutolak dengan halus tadi, aku tak ingin hidup di dalam lab lagi.
“Tidak berminat S2 atau bekerja?” tanyanya lagi.
Aku agak berpikir, sebenarnya aku agak berminat untuk melanjutkan S2. Namun, jika aku telah menikah nanti, aku akan menyerahkan semua keputusan hidupku pada suamiku.
“Belum tahu, Bu. Mungkin agak berminat untuk S2.”
“Ada beasiswa S2 ke Belanda. Kalau kau berminat, bisa mencobanya.”
Hmmm….beasiswa ke Belanda? Anak kimia mana yang tidak tergiur? Tapi aku sudah mantap, tidak akan melirik S2 atau bekerja dulu saat ini.
Aku melihat kanan dan kiri, memastikan diriku untuk aman menyebrang jalan Taman Sari ini. Di saat yang bersamaan pula, hp ku berbunyi, ada satu pesan yang masuk. Setelah menyebrang, kubuka hp sambil melanjutkan jalanku yang tinggal 200 m menuju kos. Melihat nama siapa pengirimnya, senyumku mengembang. Namun, setelah membaca isi SMS nya, aku benar-benar terkejut. Butuh tiga kali aku membacanya untuk memastikan diriku bahwa itu benar-benar seperti itu isi SMS dari seseorang di Jatinangor sana.
“Han? Hani??” Teh Iis menyapaku ketika melihatku pulang dengan tetesan air mata.
“Gak apa-apa, Teh.” Aku masuk kamar dengan setengah nyawaku… Lanjut Baca »

Haramkah

Haram-haramkah aku
Bila hatiku jatuh cinta
Tuhan pegangi hatiku
Biar aku tak jadi melanggar
Aku cinta pada dirinya
Cinta pada pandang pertama
Sifat manusia ada padaku
Aku bukan Tuhan

*
Haram-haramkah aku
Bila aku terus menantinya
Biar waktu berakhir
Bumi dan langit berantakan

**
Aku tetap ingin dirinya
Tak mungkin aku berdusta
Hanya Tuhan yang bisa jadikan
Yang tak mungkin menjadi mungkin

Reff:
Aku hanya ingin cinta yang halal
Di mata dunia juga akhirat
Biar aku sepi aku hampa aku basi
Tuhan sayang aku
Aku hanya ingin cinta yang halal
Dengan dia tentu atas ijinNya
Ketika cinta bertasbih
Tuhan beri aku cinta
Ku menanti cinta…

Lirik lagu Melly Goeslaw ‘Haramkah’

Apakah sebenarnya kedewasaan itu?
Aku dulu begitu percaya diri dan sombong kalau aku memang sudah mendapatkan kedewasaan itu saat aku masih menduduki akhir bangku SMP. Dan begitu mantap dengan kepribadian yang kuanggap benar2 telah matang ketika memasuki SMA. Tapi justru ketika aku memasuki bangku kuliah, aku mendapat goncangan yang mungkin anak kecil pun sebenarnya bisa menyelesaikannya. Dan sudah satu tahun berlalu, ketika aku telah mengatakan ‘ikhlas’, tapi efek2 kejadian satu tahun lalu masih menimbulkan efek2 samping. Aku yang dulu sehat, sangat teramat jarang sakit (kecuali pusing2 dikit), sekarang jadi gampang sakit. Di saat umurku hampir mendekati dua puluh tahun, aku justru dihadapkan dengan sesuatu hal yang membuatku bertanya, ‘apakah aku pantas menyandang kata dewasa yang sudah bertahun2 kuanggap telah ada padaku?’. Apa sebenarnya yang terjadi si Zalf? Sepele mungkin, tapi entahlah. Apakah aku hanya menyiapkan hatiku sebesar satu gelas air saja bukan satu samudra? Yah, mungkin saja. Walaupun dari enam tahun lalu aku sudah menyiapkan diri kalau hal itu akan terjadi. Dan satu tahun lalu, itu sebenarnya itu belum terjadi, tapi entahlah, aku merasa dunia telah kiamat buatku (lebay!). Lanjut Baca »

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan cerita kisah nyata dari seorang ustadz.
Silakan disimak….
Ada seorang istri, ia seorang hafidzah dan memiliki ilmu agama sangat baik. Wanita tersebut memberikan pendidikan kepada anaknya berumur tujuh tahun yang seorang bisu dan tuli. Suami dari wanita ini merupakan seorang pendosa. Wanita ini dengan segenap ilmunya berusaha menyadarkan suaminya, namun belum juga berhasil. Namun wanita ini memiliki perhatian yang khusus dan lebih kepada anaknya yang cacat ini. Ia memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya yang cacat ini dengan penuh kesabaran.
Pada suatu ketika anaknya yang bisu dan tuli ini menatap wajah ayahnya dengan tatapan tajam dan memeberi isyarat, “Wahai Ayah, sholatlah! Apakah Engkau tidak takut kepada siksa dan azab Allah?”. Kemudian anaknya ini menangis. Hingga pada suatu hari anaknya ini memberi isyarat ke ayahnya, “Wahai Ayah, jangan pergi dulu, tunggu sebentar!”. Lalu anak ini mengambil air wudhu dan menggelar sajadah di samping ayahnya lalu sholat. Kemudian seusai sholat, anak tersebut mengambil Al-Qur’an dan menunjukkan QS Maryam ayat 45 kepada ayahnya.
.” Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.” Lanjut Baca »

“My two cents” atau “put my two cents in”, atau sering kita baca dalam blog “it’s just my $ 0.02″ adalah idiom amerika yang berasal dari idiom inggris ”my two pennies worth” atau “my tuppence worth”. Frase ini sering digunakan untuk melemahkan suatu opini yang agak menyerang atau dirasa kasar. Atau dengan kata lain, it’s just my two cents digunakan untuk menghaluskan kalimat pendapat.

Sering kita baca di blog, frase ini digunakan untuk mengikuti IMHO (in my humble opinion), dengan frase ini, akan lebih merendahkan diri atau menghaluskan pendapat. contoh:

I like it but I would suggest trying to make the curve blend in better, it seems to me IMHO to abrupt but that is just my $.02

alam kini masih berbisik padaku
merayu hatiku untuk ikut bersuara
mengungkapkan sgala perasaanku, jiwaku, akalku
yang terkadang bersembunyi di balik ribuan kata
terkadang, harta karun dalam hati
hanya terungkap oleh ukiran tinta

melalui cinta-Nya
Ia memberiku nafas dan kekuatan
mengungkapkan harta karunku
kepada sesama pengembara di padang ilalang
yang juga memberi pewarna
dalam ukiranku

Hari ini senang, bukan hanya karena setelah 3 mgg GJ di kampus akhirnya mendekati hari kepulangan juga, bukan juga hanya karena nilai dah keluar. Tapi karena Allah akhirnya menunjukkan keadilannya. Ia tak akan membiarkan hamba-Nya terdzolimi sendirian. Ia tak akan membiarkan semua air mata hamba-Nya terbayar dengan murah. Biarlah, biarlah Allah yang membalasnya. Biarlah Allah yang menggantikan semuanya. Diam ini bukan kemarahan. Diam ini bukan berisi doa-doa yang tak pantas diucapkan. Diam ini hanyalah kepasrahan seorang hamba. Karena keyakinan akan keadilan Allah itu pasti ada.
Untuk para pemilik hati yang pernah tersakiti. Untuk para pemilik hati yang begitu mudahnya menangis. Untuk para pemilik hati yang begitu lembut. Untuk para pemilik hati yang menginginkan sebuah kedamaian. Air mata kalian tidaklah murah. Hati kalian tidak lah untuk tersakiti. Biarkan Ia saja yang membalas semuanya dan menggantikan milik kita dengan yang lebih baik. Keadilan Allah adalah yang terbaik. Yang perlu kita lakukan adalah bersabar dan ikhlas dengan jutaan kesabaran dan keikhlasan………

“Jongkok!” Suara pelan namun tegas keluar dari mulut sang PA—Pemangku Adat—yang terkenal super galak. Ia menyuruh ‘para korbannya’ masuk ke dalam bangsal dengan berjongkok.
Masuk sambil jongkok? Memangnya kita ini siapa?
“Hei kamu! Kenapa nggak jongkok sepereti yang lain? Nggak dengar apa kalau tadi disuruh masuk bangsal dengan ber-jong-kok, bukan ja-lan.” Sang Pemangku Adat berbicara lagi, kali ini hanya padaku.
“Maaf Kak, ini kan hanya gladi resik.” Aku menjawabnya santai.
“Ya sudah. Nanti sewaktu upacara sungguhan kamu harus masuk bangsal dengan benar. Siapa pun dilarang menodai kesucian upacara adat, ingat itu!” Aku tak mengangguk ataupun menggeleng.
Suara gamelan Jawa berbunyi menandakan upacara adat sungguhan akan dimulai. Rasa-rasanya aku ingin bertukar tempat saja dengan para penabuh itu. Lebih asyik menabuh gamelan daripada mengikuti upacara adat yang nggak jelas apa tujuannya selain hanya untuk mendapatkan bed identitas pramuka sekolah yang akan dipasang di lengan kiri baju pramuka. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »